WFP: Yaman dalam Titik Kritis kelanjutan KonflikÂ

WFP: Yaman dalam Titik Kritis kelanjutan KonflikÂ

Program Bertabur Dunia, PBB (WFP) memperingatkan Yaman berada pada titik kritis akibat konflik dan kesengsaraan ekonomi yang menyeret negara itu ke periode kelaparan. WFP juga memperingatkan risiko musnahnya kemajuan yang sudah dicapai melalui aksi kemanusiaan dalam kurang tahun terakhir.

Pertentangan meningkat di lebih dari 40 garis depan, biaya bahan pokok lebih tinggi daripada sebelumnya serta mata uang telah kehilangan 25 persen nilainya pada tahun 2020 saja – 70 persen dibandingkan dengan nilai sebelum perang.

WFP mengatakan karena basi valuta negara itu mendekati nol, kemampuan Yaman untuk mengimpor makanan juga bisa mengancam lebih penuh kelaparan bagi jutaan orang. WFP mengatakan kondisi di Yaman sudah memburuk melampaui titik yang dicapai pada 2018.

Bertambah dari 20 juta orang pada Yaman rawan pangan sementara 13 juta membutuhkan bantuan pangan WFP untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari itu. Tiga juta orang lainnya berisiko mengalami kelaparan yang memburuk karena tidak terkendalinya penyebaran COVID-19 dalam Yaman.

Selama enam bulan terakhir, keluarga, di wilayah yang dikendalikan oleh otoritas Sana’a hanya menerima bantuan makanan pada bulan-bulan tertentu karena WFP mencari jalan memperpanjang persediaan sumber dayanya buat menghindari penghentian total bantuan.

Tapi ini membuat tumbuh lebih sulit bagi jutaan karakter, WFP mengatakan hanya dalam 3 bulan, warga yang mengonsumsi sasaran secara tidak memadai di kawasan ini meningkat dari 28 menjelma 43 persen. WFP mengatakan Yaman merupakan lingkungan operasi paling rumit di dunia dan tantangan sudah mengikis tanggapan kemanusiaan. Setiap keadaan, truk makanan WFP terjebak pada penundaan birokrasi.

Belum ada satu orang pun dengan terdaftar secara biometrik untuk mendapat bantuan makanan di wilayah dengan berada di bawah otoritas Sana’a. Sementara itu, perselisihan politik pada impor BBM ke Hodeidah sudah mengakibatkan kelangkaan BBM yang membekukan. Ini berdampak pada pengiriman makanan serta dukungan kemanusiaan untuk rumah sakit dan instalasi pengolahan cairan.

Bandara Sana’a saat ini telah ditutup, menelantarkan para pelaku bantuan di dalam dan dalam luar Yaman. Pada tahun 2020, WFP meminta dana $ 2, 5 miliar untuk membangun ketahanan pangan yang sudah dicapai di tahun 2019. Sekitar separuhnya sudah tersedia untuk tanggapan WFP tarikh ini, termasuk kontribusi baru-baru ini sebesar $ 138 juta sebab Kerajaan Arab Saudi.

Pendanaan mendesak untuk operasi enam bulan ke depan membutuhkan $ 500 juta lebih, sementara untuk sampai akhirusanah saja memerlukan $ 150 juta.

WFP mengatakan pemangkasan lebih jauh buat bantuan pangan diperkirakan akan dilakukan pada kuartal terakhir jika tak menerima tambahan dana.

Saat ini, lima donor tertinggi untuk operasi WFP di Yaman pada tahun 2020 adalah: AS ($ 272 juta), Kerajaan Arab Saudi ( $ 138 juta), Jerman ($ 103 juta ), Uni Eropa ($ 53 juta ), Inggris ($ 40 juta). [my/jm]