Walau Diancam Sanksi, ICC Tetap Selidiki Dugaan Kejahatan Tentara AS

Walau Diancam Sanksi, ICC Tetap Selidiki Dugaan Kejahatan Tentara AS

Jaksa International Criminal Court – ICC – bertekad “tetap teguh” meskipun Presiden Amerika Donald Trump mengesahkan sanksi terhadap pengadilan kejahatan internasional itu, yang menyelami dugaan kejahatan perang oleh prajurit Amerika di Afghanistan.

Kepada VOA Fatou Bensouda, asal Gambia, mengatakan misinya menuntut penjahat perang internasional, tidak akan goyang.

Trump hari Kamis (11/6) mengesahkan sanksi terhadap ICC, yang telah mengindikasikan sedang meneropong dugaan kejahatan perang dan kesalahan terhadap kemanusiaan oleh tentara Amerika di Afghanistan serta dugaan kebusukan oleh pasukan Afghanistan dan Taliban. Bensouda belum menetapkan jenis kedurjanaan yang sedang diselidiki.

Menteri Luar Negeri Amerika Mike Pompeo mencatat, Amerika tidak setuju pada pengadilan itu dan menunjukkan sekutunya, negara-negara anggota NATO, kalau mereka pun bisa menjadi bahan ICC atas tindakan mereka pada Afghanistan.

Bulan Maret lalu, ketika penyelidikan ICC prima kali disahkan, Pompeo mengecam dan menilai pengadilan itu bermotivasi politik dan bertekad mengambil “semua metode yang perlu” guna melindungi warga negara Amerika.

Sanksi bisa berupa pembatasan keuangan dan perjalanan terhadap karyawan ICC dan keluarga mereka. Jaksa Agung Amerika William Barr juga telah mengumumkan Departemen Kehakiman memiliki bukti korupsi di kantor kejaksaan ICC tetapi belum mengurainya secara terbuka. [ka/jm]