Tanpa Lengan dan Satu Kaki, Kisah Bocah Difabel Asal Malawi Beriring-iring Dalam Festival Film Pendek dalam Australia

Tanpa Lengan dan Satu Kaki, Kisah Bocah Difabel Asal Malawi Beriring-iring Dalam Festival Film Pendek dalam Australia

Talandira Kogoya yang terlahir dengan tunadaksa, belajar secara otodidak untuk menulis, bermain sepak bola, dan mengendarai sepeda. Sebuah film dokumenter mengenai kehidupannya yang inspiratif dinominasikan dalam Festival Film Pendek Focus On Ability 2020 yang akan diselenggarakan Oktober mendatang di Australia.

Membesarkan Talandira, budak sembilan tahun yang lahir minus lengan utuh dan hanya satu kaki, bukan hal yang barangkali bagi keluarga Kogoya.


Talandira (tengah) bersama kedua karakter tuanya. (Lameck Masina/VOA)

Agnes Kogoya, ibunda Talandira, menuturkan, “Beberapa perempuan menertawakan saya ketika mereka tahu kami bersepeda ke sekolah. Mereka bilang mereka tidak akan repot-repot menyekolahkan anak seperti anak kami setiap harinya. Saya biasanya tak mengacuhkan mereka dan mengatakan pada diri saya sendiri, ‘anak itu adalah anugerah Tuhan’. ”

Akan tetapi, penilaian klub di selatan Malawi terhadap Talandira itu berubah ketika ia menunjukkan bahwa keterbatasan fisiknya tidak membuatnya tak berdaya.


Talandira (baju putih) tetap bermain menampar bola bersama teman-teman sebayanya. (Lameck Masina/VOA)

Keahliannya yang dipelajari secara otodidak diangkat dalam sebuah hidup dokumenter lokal berjudul ‘Chosen’ alias ‘Terpilih’, yang kemudian dinominasikan dalam Festival Film Pendek Focus On Ability 2020 yang digelar Oktober mendatang di Australia.

Pejabat Malawi mengatakan bahwa dongeng Talandira menjadi sebuah contoh yang hebat bagi kelompok difabel dan bagaimana seharusnya mereka mendapat sokongan.


Talandira Kogoya terlahir hanya dengan satu kaki utuh.

Biton Mpilisi, asisten Dinas Ketenteraman Sosial Distrik Phalombe, mengatakan, “Kami amat bangga pada Talandira dengan ikut serta dalam kompetisi. Situasi ini akan membantu orang gelap lainnya untuk keluar dan mengenalkan anak-anak difabel mereka kepada beragam aktivitas sosial, di mana itu dapat dibantu dan bisa menyentuh apa yang mereka cita-citakan dalam masa depan. ”

Agnes percaya film dokumenter tentang anaknya akan diterima dengan baik di festival film pendek tersebut. “Dedikasi dan kebijaksanaan yang ia miliki membuat saya percaya hidup dokumenter tentangnya bisa memenangkan perhargaan, ” tambahnya.

Tatkala bagi Talandira yang tengah bersandar di kelas 3 SD, impian tak berhenti di Australia. Ia bercita-cita bisa menerbangkan pesawat.


Talandira tetap semangat belajar setiap hari.

“Saya ingin menjelma pilot karena mereka bisa menggondol orang ke berbagai tujuan pada seluruh dunia. Saya juga mau melihat tempat-tempat itu, ” ujarnya.

Untuk saat tersebut, Talandira masih senang mem-piloti sepedanya berkeliling tempat tinggalnya. [rd/jm]