Pembunuhan Berlatar Siri di Bantaeng Tiba Disidangkan

Pembunuhan Berlatar Siri di Bantaeng Tiba Disidangkan

Kasus pembunuhan Rosmini binti Darwis, gadis berusia 16 tahun dengan dibunuh oleh beberapa anggota keluarganya sendiri, diduga kuat bermotif siri, hari Kamis (27/8) mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Bantaeng, Sulawesi Selatan. Masih meluasnya perebakan pandemi virus corona membuat sidang dilangsungkan secara virtual.

Besar terdakwa pelaku yang merupakan raka kandung korban, Rahman yang berumur 30 tahun dan Suryanto yang berusia 20 tahun, dihadirkan maya dari rutan Bantaeng lewat jaringan internet; sementara seluruh hakim serta jaksa berada di ruang wasit pengadilan.

Dihubungi melalui telepon, Juru Cakap PN Bantaeng Imran Marannu, mengucapkan “persidangan berlangsung secara terbuka dan publik bisa menyaksikannya, namun terdakwa secara daring dari rutan Bantaeng. ” Ditambahkannya, kedua terdakwa dijerat dengan “dakwaan kombinasi, ” ataupun dijerat dengan sejumlah pasal, kurun lain UU Perlindungan Anak No. 23/Tahun 2002 dan KUHP Urusan 338 dan 340 tentang pembunuhan berencana.

“Karena kedua terdakwa itu tidak memiliki penasehat hukum dan pasal berlapis dengan ada dalam dakwaan penuntut ijmal mewajibkan pendampingan, maka majelis ketua mengeluarkan penetapan yaitu menunjuk LBH Butta Toa sebagai penasehat kaidah kedua terdakwa, yang berkasnya terbelah itu, ” papar Imran.

Dinilai Mempermalukan Suku

Dalam pengkajian awal polisi dan sebagian salinan pengadilan diketahui Rosmini binti Darwis dibunuh oleh beberapa anggota keluarganya sendiri pada 9 Mei lalu karena dinilai telah mempermalukan tanggungan.

Menurut keterangan pers yang dirilis Polres Bantaeng kala itu, malu dengan kondisi Rosmini yang kerap muntah dan kehilangan kesadaran, pihak keluarga sempat meminta pertanggungjawaban Usman, abang sepupunya yang telah berkeluarga dan dikenal depan dengan Rosmini.

Upaya itu gagal dan Usman melarikan diri ketika pihak keluarga menyidang Rosmini di rumah mereka di zona Katabung, desa Pattaneteang, kecamatan Tompobulu, kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Keluarga juga sempat menyandera dua pria dan menawari seorang di antaranya untuk menikahi Rosmini, yang kemudian ditolak.

Polisi dengan mengetahui proses penyanderaan ini sempat mendatangi rumah keluarga Rosmini serta melemparkan gas air mata, namun nyawa gadis itu tak tertunjang lagi.

“Gadis tersebut pasrah dengan apa yang dikerjakan keluarganya. Ia dibunuh oleh kedua abang kandungnya, di hadapan abu, ibu, dan beberapa anggota tanggungan lain, termasuk satu sandera dengan ditahan keluarga, ” ujar Kapolres Bantaeng AKBP Wawan Sumantri masa diwawancarai VOA.


Belas kasih dan Suryanto bin Darwis, kakang kandung korban dan tersangka karakter pembunuhan (courtesy: Polres Bantaeng).

Ditambahkannya, “pembunuhan ini merupakan bagian dibanding tradisi yang disebut siri, atau tindakan untuk mempertahankan martabat puak. Motif ini penting disampaikan supaya tidak menimbulkan hoaks. ”

Pembunuhan dilakukan di hadapan sembilan anggota keluarga, termasuk ayah dan ibu kandung Rosmini, Darwin bin Daga dan Anis binti Kr. Pato. Namun dibanding hasil penyelidikan, polisi hanya menetapkan dua orang sebagai tersangka, yakni Rahman dan Suryanto; sementara tujuh anggota keluarga lainnya, yaitu abu, ibu, kakak dan menantu, semuanya dibebaskan.

Beberapa ahli tarikh yang diwawancarai VOA sebelumnya membenarkan adanya tradisi mate siri dalam Sulawesi Selatan, yang berarti bertambah baik mati karena mempertahankan nilai diri, daripada hidup tanpa makna diri. Namun sebagaimana polisi, pada mata hukum, alasan menegakkan adat istiadat untuk melakukan pembunuhan seperti ini tetap tidak dapat dibenarkan. Sidang pengadilan akan dilanjutkan minggu depan. [em/es]