Pembelaan di ICU Bisa Sadarkan Warga Yang Belum Divaksinasi

perawatan-di-icu-bisa-sadarkan-warga-yang-belum-divaksinasi-2

Di tengah peluncuran vaksin COVID-19 secara nasional di AS, banyak juga warga yang menunda atau makin menolak divaksinasi.

Dan sebagian dari mereka, akhirnya menyesal karena telah menundanya. “Kami hanya berpendapat kami masih muda dan cukup sehat, dan kalau kami terjangkit, kondisinya tidak akan terlalu buruk. Namun ternyata buruk. ”

Sedikit di luar kota Little Rock, Arkansas, Tate Ezzi dan istrinya, Christine, sedang menunggu kemunculan anak keenam mereka di Mei lalu, sewaktu keduanya jatuh sakit dengan isyarat COVID-19 yang parah.

Di rumah lara University of Arkansas for Medical Sciences (UAMS) pada Little Rock, Christine kudu menggunakan ventilator dan kemudian Extracorporeal Membrane Oxygenation ataupun ECMO, mesin yang memompakan darah di luar awak pasien ke jantung dan paru-paru artifisial.

Ezzi mengutarakan Christine akhirnya keguguran. “Kami tahu bahwa janinnya lahir mati. Yang kami terang adalah kadar oksigennya runtuh terlalu rendah pada sejenis waktu. ”

Sementara itu Tate tiba merasakan sendiri gejala COVID-19 dan ia menghabiskan waktu delapan atau sembilan keadaan di rumah sakit. “Dan saya beritahu mereka, apapun pengobatannya, dapat kalian berikan untuk saya, apapun. Kalian harus membuat saya bertambah baik, karena saya tahu Christine tidak dalam peristiwa baik ketika itu. ”

CEO UAMS Stephen Mette mengatakan kepada Reuters terlalu banyak masyarakat Arkansas yang menunda vaksinasi karena berbagai alasan. Sayangnya, yang kerap terjadi ialah mereka baru berubah pikiran setelah harus berobat ke rumah sakit.

“Ada penolakan cukup gembung untuk mendapatkan vaksinasi pada kalangan masyarakat. Dan hamba harus katakan bahwa semua pasien yang dirawat di rumah sakit di sini, setelah mereka pulih, jika mereka belum divaksinasi, oleh karena itu mereka memberitahu kami kalau mereka benar-benar berubah budi dan akan divaksinasi begitu keluar dari rumah melempem, ” jelasnya.


Pasien COVID-19 Brian Parisi (53), dari Orange County, dirawat oleh staf medis di ICU Rumah Sakit Providence St Joseph di Orange, California, AS, 23 Juli 2021. (REUTERS/Omar Younis)

Tetap saja, tidak semua karakter menerimanya. “Saya mulai menemui kesulitan bernapas dan ukuran oksigen saya mulai mendarat. Jadi saya pikir, bertambah baik saya ke sendi sakit. Dan mereka pun membawa saya ke tempat gawat darurat dan lalu mengevaluasi saya, lalu membawa saya ke unit ini. ”

Brian Parisi menghabiskan waktu bertambah dari sepekan di ICU di Providence St. Joseph di Orange, California, berjuang melawan virus corona. Lelaki berusia 53 tahun dengan belum divaksinasi itu mengutarakan kepada Reuters bahwa dia tidak percaya vaksin mau membantu.

“Kalau mengingatnya lagi, saya sejujurnya tidak tahu apakah vaksin akan membuat perbedaan sebab ada reaksi negatif dengan dapat berasal dari vaksin, ” komentarnya.


Dr. Serta Ponticiello (43), dan Dr. Gabriel Gomez (40), mengintubasi pasien COVID-19 di bagian ICU COVID-19 Rumah Kecil Misi Providence di Mission Viejo, California, AS, 8 Januari 2021. (REUTERS)

Dokter Jooby Babu, ahli perawatan kritis paru, tak sependapat. “Cukup jelas kalau orang yang divaksinasi tak akan mendapat gejala penyakit dan jauh lebih kecil kemungkinannya dirawat karena COVID. ”

Setelah menghabiskan sebagian besar kamar Mei dan Juni dalam rumah sakit, Christine Ezzi masih lemah, tetapi kondisinya membaik setiap hari.

Tate Ezzi mengutarakan ia kini memiliki perintah untuk sesama warga Arkansas mengenai vaksin. “Saya ingin orang-orang dapat mengambil kesimpulan sendiri, tentu saja. Tetapi saya benar-benar ingin memberitahu kisah saya karena jika ini terjadi pada saya, ini dapat terjadi pada siapapun. ” [uh/ab]