Pelopor Khawatirkan Keberadaan Perempuan dalam Bawah Kendali Taliban

aktivis-khawatirkan-keberadaan-perempuan-di-bawah-kendali-taliban-1

Organisasi hak-hak perempuan memperingatkan konsekuensi terhadap kehidupan dan kemandirian perempuan setelah Taliban merebut kekuasaan di Afghanistan.

“Kami sangat khawatir akan terjadi objek terkait keberadaan kaum hawa. Mereka akan dibunuh ataupun dipaksa menikah, dianiaya, menderita kekerasan, ” ujar Tergesa-gesa Birkmann dari organisasi hak-hak perempuan “Terre des Femmes” kepada kantor berita Associated Pres s, Senin (16/8).

Birkmann mengungkapkan harapannya bahwa operasi evakuasi orang-orang dari Kabul dapat “diatur dengan stabil” untuk membawa keluar “sejumlah aktivis hak-hak perempuan dari negara itu. ”

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid berbicara dalam konferensi pers di Kabul, Afghanistan, 7 September 2021. (Foto: VOA)


Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid berbicara pada konferensi pers di Kelulusan, Afghanistan, 7 September 2021. (Foto: VOA)

Pada konferensi pers di Kelulusan pada Selasa (17/8) ujung bicara Taliban Zabihullah Mujahid menyampaikan masalah hak-hak perempuan “sangat penting” dan itu “berkomitmen atas hak-hak perempuan dalam kerangka Syariah”.

Mujahid menjelaskan Taliban ingin meyakinkan dunia “bahwa tidak akan ada diskriminasi terhadap kaum perempuan, tapi tentu saja dalam kondisi yang kita miliki. ”

Namun, Birkmann menggambarkan situasi kaum hawa di Afghanistan sebagai “mengancam jiwa”, dan mengungkapkan kalau akses ke pendidikan sudah ditolak.

“Di Herat semua sekolah hawa telah ditutup. Semua toko juga ditutup. Kebanyakan perempuan tidak lagi bekerja sebab merasa takut pada Taliban. Kami juga mendengar urusan dari organisasi lain kalau perempuan tidak lagi dapat meninggalkan rumah tanpa didampingi muhrim. Jadi mereka benar-benar terputus (dari dunia luar), ” kata Gesa Birkmann.

Banyak perempuan di negara Asia Daksina itu merasa khawatir bahwa eksperimen Barat dalam perut dekade ini untuk memperluas hak-hak perempuan dan membangun kembali Afghanistan, tidak bakal bertahan dengan bangkitnya Taliban.

Setelah penuh kota di Afghanistan lepas ke tangan mereka tanpa ada perlawanan, Taliban mencari jalan menggambarkan diri mereka jadi lebih moderat dibandingkan kala mereka memberlakukan aturan yang brutal pada akhir 1990-an. Akan tetapi banyak masyarakat Afghanistan tetap merasa ragu-ragu.

Perempuan Afghanistan menuntut hak mereka di bawah kekuasaan Taliban saat demonstrasi di dekat bekas gedung Kementerian Urusan Perempuan di Kabul, Afghanistan, Minggu, 19 September 2021. (Foto: AP)


Perempuan Afghanistan menuntut benar mereka di bawah adikara Taliban saat demonstrasi di dekat bekas gedung Departemen Urusan Perempuan di Kelulusan, Afghanistan, Minggu, 19 September 2021. (Foto: AP)

Generasi Afghanistan yang lebih tua masih ingat akan pandangan Taliban yang uakonservatif terhadap Islam. Sewaktu berpengaruh, Taliban sangat membatasi rumpun perempuan. Mereka juga meresmikan rajam dan amputasi pada depan umum sebelum kewenangan mereka digulingkan oleh invasi pimpinan AS setelah pukulan teror 11 September 2001.

Birkmann menghakimi penarikan cepat pasukan GANDAR dari Afghanistan sebagai jalan yang “tidak bertanggung pikiran. ” Ia menambahkan perkembangan hak-hak perempuan di negeri itu “belum mendapatkan pijakan yang stabil”.

“Situasinya berjalan sedemikian lekas, tentu saja tidak tersedia yang memperkirakan itu terjadi. Namun dapat diprediksi kalau situasinya akan menjadi jauh lebih buruk bagi asosiasi, bagi penduduk sipil, terutama anak perempuan dan famili perempuan di Afghanistan, ” kata Gesa Birkmann​. [mg/ka]