Pelecehan Perempuan di KRL: Intip & Rekam Celana Dalam

Pelecehan Perempuan di KRL: Intip & Rekam Celana Dalam

Pemilik akun Facebook Resti Vurwarin, Sabtu (5/12) siang, meminta bantuan ke anggota grup KRL-Mania untuk melaporkan pemilik akun Instagram @wanitacd. Penyebabnya akun ini mengintip, mengambil gambar, dan merekam dengan sembunyi celana dalam perempuan pemakai KRL di Jabodetabek dan tempat publik lainnya.

Di akun @wanitacd, pemilik mengaku mengoleksi celana dalam bekas perempuan dan video hasil mengintip. Akun itu memiliki 7. 461 pengikut dan mengikuti 806 akun. Total ada 52 item yang diunggah berangkat dari September 2019 hingga November 2020. Komisioner Komnas Perempuan Theresia Iswarini mengatakan tindakan yang dilakukan pemilik akun @wanitacd merupakan kekerasan seksual terhadap perempuan di lembah publik.


Hasil tangkapan layar akun Instagram @wanitacd sebelum diturunkan.

“Kalau pada konteks ini, polisi sebenarnya bisa melakukan kesibukan tertentu karena sudah meresahkan orang lain. Jadi semua tindakan yang merugikan, meresahkan orang lain itu menjadi domain negara, dalam kejadian ini kepolisian untuk melakukan jalan ketertiban umum, ” jelas Theresia Iswarini kepada VOA, Sabtu (6/12).


Komisioner Komnas Perempuan Theresia Iswarini. (Foto: Courtesy/Theresia)

Theresia Iswarini menambahkan pemidanaan terhadap karakter pelecehan sulit dilakukan karena belum ada payung hukum untuk urusan pelecehan seksual. Karena itu, dia mendorong pemerintah dan DPR mempercakapkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual agar dapat segera disahkan menjadi peraturan.

Namun, kata tempat, para korban juga dapat mengeluh ke polisi untuk menuntut pelaku secara perdata dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Di samping tersebut, pelaku juga dapat dituntut dengan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik, jika terbukti menyebarkan konten tersebut di media online.

“Jadi memang dilematis bagi status kita. Tetapi saya pikir kepolisian dapat membantu, setidaknya untuk mengisbatkan pelaku tidak melakukan perbuatannya lagi, ” tambah Iswarini.

Kepala Sub Divisi Digital at Risks SAFEnet, Ellen Kusuma, mengatakan kasus ini dapat membuat rani merasa semakin tidak aman pada ranah publik, termasuk KRL Jabodetabek. Menurutnya, kasus pengambilan gambar ataupun video celana dalam perempuan secara tersembunyi merupakan kasus pertama yang dicatat Safenet. Namun, kata tempat, kasus serupa berupa pengambilan gambar atau video perempuan di kereta secara diam-diam pernah terjadi kaum tahun lalu di platform media sosial twitter.

“Itu sebenarnya ketahuan, karena ada salah satu korbannya tahu. Dia kemudian melayani protes ramai-ramai hingga akunnya dilakukan take down, ” elas Ellen pada VOA, Sabtu (6/12) malam. ​

Walaupun setelah lulus take down , muncul lagi kasus serupa. Siap ini tantangan kasus kekerasan berbasis gender online. Karena mati kepala tumbuh seribu, ” lanjutnya.


Kereta komuter perempuan pada stasiun Duri di Jakarta, 2 Oktober 2015. (Foto: REUTERS/Beawiharta)

Ellen menambahkan sulit untuk mencari terang pelaku Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) karena akun yang digunakan anonim seperti @wanitacd. Namun, kata dia, bukan tidak mungkin pelaku kekerasan tersebut dapat diungkap, jika abdi penegak hukum mau bertindak.

Ellen menjelaskan lembaganya bertambah memilih melakukan edukasi kepada bangsa untuk mencegah kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan seperti KBGO. Harapannya, perempuan dapat mengantisipasi kekerasan dan mengetahui lembaga-lembaga bantuan yang berkaitan dengan kasus kekerasan.

Dalam samping itu, SAFEnet juga mengiringi korban untuk melaporkan kasus kekerasan tersebut ke perusahaan media sosial untuk dapat segera diturunkan konten dan akunnya. Ini seperti akun @wanitacd yang sudah dihapus & semua kontennya diturunkan setelah dilaporkan dalam hitungan jam.

Pelaku Diduga Mengidap Fetisisme

Pemilik akun Facebook Resti Vurwarin yang mengadukan tindakan pemilik akun @wanitacd berniat pelakunya mengidap fetisisme atau bangkitnya gairah seksual seseorang melalui semacam benda. Namun, menurut psikolog klinis Sustriana Saragih, perlu ada diagnosa langsung terhadap pelaku untuk mendapati seseorang mengidap fetisisme atau tidak. Meski, ia juga menduga pemilik akun @wanitacd adalah seorang pengidap fetisisme jika dilihat dari perilakunya yang memotret dan merekam celana dalam.


Psikolog klinis Sustriana Saragih. (Foto: Courtesy/Sustriana)

“Semua orang pakai celana dalam. Tapi untuk dia, dia mengimajinasikan celana dalam dengan gambaran-gambaran imajinasi erotis di otaknya. Jadi ketika melihat itu dia terangsang, ” sahih Sustriana Saragih.

Sustriana menambahkan fetisisme dapat mengganggu konsentrasi pengidapnya sehingga dapat berpengaruh terhadap hubungan sosial atau pekerjaan mereka. Karena itu, pengidap fetisisme menetapkan direhabilitasi untuk mengatasi gangguan psikologis tersebut.

Sustriana selalu tidak sependapat jika perempuan harus menyesuaikan pakaian mereka untuk menyekat terjadinya Kekerasan Berbasis Gender Online di ranah publik. Ia berargumen kekerasan tersebut terjadi karena pelaku kekerasan atau gangguan psikologis dengan dialami seseorang.

“Kalau misalkan dipenjara atau dihukum tidak akan mengubah apa-apa. Keluar mau melakukan hal yang sama sebab belum diselesaikan masalahnya. Dia dihukum perilakunya, tapi tidak dibantu untuk mengerti apa yang harus dilakukan. Ini jauh dari kontrol mereka, ” tambah Sustri. [sm/ah]