Pelaku Penusukan Tokoh Agama Ali Jaber Dijerat Pasal Penganiayaan

Pelaku Penusukan Tokoh Agama Ali Jaber Dijerat Pasal Penganiayaan

Juru Bicara Mabes Polri Awi Setiyono mengatakan polisi membekukan Alpin Adrian (AA) yang menikam tokoh agama Ali Jaber untuk 20 hari ke depan. Menurutnya, polisi telah memeriksa delapan bukti terkait kasus ini.

Polisi juga menetapkan AA sebagai tersangka kasus penganiayaan dengan kerawanan pidana penjara lima tahun tangsi dan membawa senjata tajam minus hak dengan ancaman penjara 10 tahun.

“Bahwasanya simpulan AA sudah dilakukan penahanan semenjak hari ini sampai dengan 20 hari ke depan, ” terang Awi Setiyono dalam konferensi pers di Mabes Polri Jakarta, Senin (14/9/2020).

Awi menambahkan korban Ali Jaber mengalami luka tusuk dan telah mendapat perawatan medis. Sedangkan untuk tersangka akan diperiksa kondisi kejiwaannya di Panti Sakit Jiwa Kurungan Nyawa Dalang Lampung. Selain itu, kata Aur, Mabes Polri telah mengirimkan tim dokter dan psikiater untuk membangun Polda Lampung dan Polresta Pemilik modal Lampung.

“Tentunya nanti setelah Polri menerima visum et repertum dari korban maupun simpulan akan dilakukan pemeriksaan ahli kedokteran, ” tambah Awi.

Polisi Masih Dalami Kesimpulan Penusukan


Kabid Humas Polda Lampung Zahwani Pandra Arsyad. (Foto: Zahwani)

Sementara Kabid Humas Polda Lampung Zahwani Pandra Arsyad mengatakan delapan saksi yang diperiksa berasal dari keluarga serta tetangga tersangka, serta saksi pada lokasi kejadian. Kata dia, hasil penyelidikan sementara menunjukkan pelaku mengabulkan tindak pidana seorang diri. Kendati demikian, polisi masih mendalami kesimpulan penusukan yang dilakukan pelaku.

Menurut Pandra, berdasarkan penjagaan, pelaku melakukan serangan tersebut karena terdorong rasa takut dan dibayang-bayangi ole sosok Ali Jaber. Menurutnya, pelaku juga beberapa kali tahu korban di media elektronik.

“Dia merasa terbayang-bayangi, perasan dia tidak nyaman. Itulah fakta-fakta yang ada kita selidiki dengan mendalam, baik dari keseharian simpulan di dalam keluarga seperti apa, ” jelas Pandra kepada VOA, Senin (14/9/2020).

Pandra menambahkan lokasi penusukan berjarak kira-kira 500 meter dari rumah simpulan. Polisi telah menyita barang fakta berupa pisau dapur yang dimanfaatkan AA untuk menyerang Ali Jaber.

LPSK Tawarkan Perlindungan ke Ali Jaber

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu mengatakan lembaganya telah menawarkan perlindungan kepada Ali Jaber. Salah satu pertimbangannya adalah penyerangan ini dapat mengancam atma Ali Jaber yang merupakan tokoh agama.

“Kita belum tahu apakah pelaku ini tunggal atau ada orang yang membakar. Dan kita melihat kegagalan perkara ini karena korban bereaksi jadi motif pelaku tidak terlaksana secara sempurna, ” jelas Edwin Partogi kepada VOA, Senin (14/9/2020).

Edwin menambahkan perlindungan kepada korban dapat dilakukan dengan beberapa cara mulai daripada pengawasan hingga penempatan di sendi aman. LPSK juga dapat menganjurkan pendampingan hukum untuk memastikan data yang diberikan korban tidak dalam tekanan. Selain itu, korban juga bisa mendapatkan rehabilitasi medis, termasuk layanan psikologis jika mengalami pukulan.

“Kalau korban sedia menuntut ganti rugi terhadap karakter, ada fasilitasi restitusi yaitu benar korban atas ganti rugi sebab pelaku, ” tambahnya.

MUI Kutuk Serangan terhadap Ali Jaber

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mengutuk serangan yang dilakukan pelaku terhadap Ali Jaber. Ia mendorong aparat untuk mengungkap motif dari tindakan pelaku yang menurutnya tidak manusiawi.

“Sehingga masyarakat luas bisa pelajaran apa motif yang melatarbelakangi kesibukan yang tidak sesuai dengan kaidah kemanusiaan ini, ” jelas Anwar Abbas.

Kasus penyerbuan terhadap Ali Jaber ini menaikkan daftar panjang penyerangan terhadap tokoh agama yang terjadi sepanjang 2018-2020. Sejumlah kasus tersebut antara asing penyerangan terhadap pemuka agama di Kendal, Jawa Tengah (2018), penusukan seorang ustaz di Depok, Jawa Barat (2018) dan penganiayaan pemimpin masjid di Sidoarjo, Jawa Timur (2018).

Pada 2020, tercatat dua kasus yaitu penusukan imam masjid di Pekanbaru di Juli 2020 dan penyerangan imam masjid di Ogan Komering Ilir pada September ini. Motif penyerbuan dari serangan tokoh agama tersebut beragam mulai dari kriminal murni hingga pelaku mengalami gangguan atma. [sm/em]