Muda Belgia Gembalakan Domba untuk Selamatkan Lingkungan

pemuda-belgia-gembalakan-domba-untuk-selamatkan-lingkungan-2

Pesan Penulis Jenderal PBB Antonio Guterres baru-baru ini terkait informasi PBB, yang mengkhawatirkan tentang perubahan iklim, masih terngiang di telinga Lukas Janssens.

Saat tersebut Guterres mengatakan, pemanasan ijmal yang mengancam akan mencekik bumi merupakan kode merah atau tanda bahaya untuk kemanusiaan.

Janssens memang bukan siapa-siapa. Ia hanya penggembala domba. Akan tetapi komitmen pribadinya untuk menyelamatkan lingkungan dengan cara biasa namun efektif banyak mendapat acungan jempol. Pernyattan Gutteres itu semakin mendorong komitmennya untuk menyelamatkan lingkungan.


Kambing memakan rumput dan kembang liar lainnya di pemakaman Schoonselhof, Hoboken, Belgia, Jumat, 13 Agustus 2021. (AP)

Ia berusaha mengurangi emisi gas rumah kaca dengan menggembalakan domba-dombanya dalam lahan-lahan berumput di Belgia untuk menggantikan fungsi mesin-mesin pemotong rumput.

“Saya memulainya dengan menjadi penggembala domba karena, bergabung dengan domba-domba kecil, saya ingin berkomitmen pada klub. Saya ingin, selain memproduksi daging, susu, atau wol, domba-domba juga memiliki laba lingkungan. Setiap langkah kecil, penting. Maksud saya, di akhirnya, ini adalah peristiwa yang sangat kecil. Tetapi jika Anda melihat kisah yang lebih besar, ini pasti akan berdampak, ” jelasnya.

Apa yang diupayakannya telah berlangsung tiga tarikh. Dan pada usia 24, ia mendapati bisnisnya berkembang pesat. Dalam masa sadar iklim, bisnisnya kini memaksanya menjalani gaya hidup kerja nonstop. Ia menggembalakan domba-dombanya di mana saja diperlukan, termasuk Taman Schoonselhof, lengah satu kawasan pemakaman ikonik di Belgia.

“Ketika Anda berbicara mengenai Karbon Dioksida (CO2), kami hampir tidak mengeluarkan emisi. Saya punya mobil tetap saja untuk membawa domba-domba itu, tetapi domba-domba tak mengeluarkan emisi. Jika Kamu akan menggunakan mesin pemotong rumput, derek atau yang lain, Anda akan memproduksi emisi yang sangat besar. Sedang pula, domba relatif tidak berisik dibandingkan dengan instrumen pemotong rumput, ” lanjutnya.


Penggembala domba Belgia, Lukas Janssens menggembalakan kawanan dombanyanya di pemakaman Schoonselhof, Hoboken, Belgia, Jumat, 13 Agustus 2021. (AP)

Banyak orang berpendapat, Janssens memang tidak seterkenal remaja aktivis dunia Greta Thunberg dari Swedia. Namun, menurut mereka, tidak mungkin, ia bakal mengalami apa yang dialami Thunberg.

Thunberg pada awalnya juga memulainya dari kegiatan kecil. Muda kesepian ini memulai penentangan lingkungannnya secara sendirian pada luar parlemen Swedia pada Stockholm tiga tahun berantakan. Tak lama kemudian, banyak mahasiswa di berbagai arah dunia mulai mengikuti jejaknya dengan melakukan protes besar-besaran secara teratur.

Thunberg juga diundang untuk berbicara dengan para-para pemimpin politik dan bisnis di konferensi-konferensi PBB dan dijamu oleh para kepala dunia seperti ketua Asosiasi Eropa Ursula von der Leyen. [ab/ka]