Menunggangi Energi Terbarukan untuk Pertanian

Menunggangi Energi Terbarukan untuk Pertanian

Gaya terbarukan, seperti sinar matahari, merupakan salah satu sumber daya daerah yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai negara dengan terletak di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki keuntungan yang luar umum karena sepanjang tahun disinari matahari. Namun ternyata energi ini belum sepenuhnya dikembangkan, padahal menurut Kepala Pusat Studi Lingkungan dan Gaya Terbarukan Universitas Surabaya, Elieser Tarigan, sudah banyak negara di melahirkan katulistiwa yang memanfaatkan energi matahari untuk pengembangan pertanian, contohnya Jepang dan negara-negara di Eropa.

Pemanfaatan energi terbarukan dengan diintegrasikan dengan teknologi, menurut Elieser Tarigan, adalah solusi mengatasi urusan pertanian konvensional yang sangat berpegang pada iklim, cuaca, dan pengairan.

“Pertanian itu tunggal berkaitan dengan iklim, cuaca, situasi pengairan, dan lain-lain. Kalau dulu pertanian konvensional sangat bergantung pada cuaca, sehingga kalau musim kemarau tersebut tidak bisa menanam, misalnya. Zona, sekarang pertanian modern tidak sesuai itu. Sebenarnya semuanya bisa dikondisikan manakala kita punya energi. Walaupun energi itu tidak berdiri sendiri, tetapi energi itu harus ada, ” kata Elieser Tarigan.


15 lembar panel surya menjadi sumber energi alternatif pemangku PLN untuk membantu pengerjaan pertanian dan peternakan di Gubug Lazaris, Pare, Kediri. (Foto: VOA/Petrus Riski)

Pertanian modern dengan memanfaatkan teknologi dan energi terbarukan, pada periode kini dikenal dengan istilah agrivoltaic ataupun agriculture fotovoltaic. Elieser Tarigan mengatakan, daya besar energi matahari ini kudu dapat dioptimalkan. Selain untuk memanifestasikan listrik, energi terbarukan ini pula dapat membantu mengelola pertanian yang saat ini tidak dapat diandalkan, akibat perubahan iklim dan kontraksi lahan.

Gaya Matahari Belum Dioptimalkan

Namun sayangnya, belum tersedia upaya serius dari pemerintah buat mengoptimalkan energi yang tidak hendak habis ini, secara khusus buat pengembangan pertanian. Masalah pembiayaan untuk membeli panel surya masih menjadi kendala energi matahari dimanfaatkan dengan optimal. Padahal kata Elieser Tarigan, bila dikerjakan secara serius, pertanian yang memanfaatkan teknologi dan gaya terbarukan akan mampu menjawab perkara terbatasnya lahan serta jumlah buatan yang dihasilkan.

“Kebijakan pemerintah termasuk ke dalam perbankan, itu belum ada yang menyerahkan pinjaman seperti kita mengangsur vila. Orang kalau beli rumah harganya tidak ada yang sekarang agak-agak dibawah 500 juta, tapi orang bisa beli karena ada dengan membiayai, nah energi sendiri enggak, ” katanya.

“Kalau dihitung secara ekonomi jangka panjang, panel surya itu menguntungkan sebenarnya, tetapi karena kebijakan kita belum menyentuh pembiayaan oleh negara sebagai pengelola keuangan, kalau bayar sendiri langsung cash 100 juta untuk energi pertanian, petani kita ya tidak mungkin, ” lanjut Elieser Tarigan.

Energi Terbarukan Kembangkan Pertanian Organik

Pemanfaatan potensi energi terbarukan untuk pertanian, saat ini masih bersemangat sporadis atau hanya dilakukan sebab individu maupun kelompok masyarakat. Gubug Lazaris di Desa Sambirejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, adalah salah satu yang memanfaatkan energi terbarukan untuk pengembangan pertanian. Gubug Lazaris merupakan tempat pengembangan bakal unggul pertanian organik, yang dikelola para pastor dari Konggregasi Misi (CM) Indonesia.


Romo Marcelinus Hardo Iswanto, CM, menunjukkan panel biogas untuk kompor vila tangga (Foto: VOA/Petrus Riski)

Arsitek dan pengelola Gubug Lazaris, Romo Marcelinus Hardo Iswanto, CM, mengucapkan pemakaian panel surya dipilih buat mendukung pengembangan pertanian organik yang dikelolanya. Selain pertanian tanaman bertabur, sayuran dan buah-buahan, pompa air yang digerakkan dari energi matahari, juga difungsikan untuk merawat kebersihan kandang ternak sapi perah. Pemakaian energi matahari ini, kata Romo Hardo, mampu menghemat pembayaran elektrik PLN sebelum memakai panel surya.

“Itu panelnya utama lembar ini bisa menghasilkan 100 watt listrik, berarti kalau mutlak 1. 500 watt. Ini cuma saya pakai untuk menggerakkan mengambil, karena kalau kita pertanian, kita memerlukan pompa di siang keadaan. Misalnya untuk minumnya sapi, membuang sapi, membersihkan kandangnya, untuk menyelenggarakan tanaman. Semuanya ini menolong hamba menghemat listrik, kalau saya memakai listrik PLN itu pengeluaran yang lumayan besar, ” papar Romo Hardo.

Tidak Hanya Sinar Matahari, Kotoran Sapi Pun Bermanfaat

Tidak hanya memanfaatkan sinar matahari untuk diubah menjadi energi elektrik, Gubug Lazaris juga memanfaatkan tahi sapi untuk dijadikan biogas. Sebesar 20 sapi perah menjadi ‘pemasok’ kotoran untuk digester biogas. Gas dari kotoran sapi ini sanggup dimanfaatkan untuk 5 kompor sepanjang hari, sehingga tidak lagi memerlukan gas LPG untuk memasak. Laksana yang dituturkan Noviandi Wijaya, lupa seorang pekerja di peternakan Gubug Lazaris.


Seorang pekerja membersihkan kandang dan mengumpulkan tahi sapi untuk biogas dan gemuk kandang. Air yang dipakai digerakkan menggunakan energi matahari. (Foto: VOA/Petrus Riski)

“Tempat penampungannya itu tumbuh, bisa sampai lima kompor, itu kan ada empat kompor. Tersebut prosesnya setiap hari, dipakai tak apa-apa, lebih baik itu dipakai. Daerah sini banyak yang memelihara sapi, harusnya disesuaikan untuk memproduksi biogas itu lebih bagus tambahan pula, jadi menghemat beli gas tersebut tadi, LPG, ” tutur Noviandi.

Pemanfaatan energi terbarukan sebagai aternatif energi oleh Gubug Lazaris, menurut Romo Hardo, jadi upaya mengenalkan adanya alternatif energi di lingkungan pertanian, agar bangsa khususnya petani mulai tertarik & beralih memanfaatkan energi yang suci dan ramah lingkungan.

“Saya itu selalu kepingin memeriksa alternatif yang ada di tempat. Jadi, kalau bisa apa dengan ada di alam itu kita manfaatkan sebagai energi alternatif, itu kita manfaatkan, dan saya kepinginnya ada suatu tempat untuk mendatangkan energi alternatif kepada anak-anak, kepada petani, kepada mungkin keluarga-keluarga yang datang ke sini, bahwa mereka itu bisa menyaksikan, bahwa tersedia beberapa kemungkinan energi yang bisa diciptakan di lingkungan pertanian, ” imbuh Romo Hardo.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur, mencuaikan Kepala Bidang Energi, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Oni Setiawan, menegaskan komitmennya mendukung pengembangan energi terbarukan, sebagai bagian dari rencana umum energi nasional.

Program bauran gaya ini, kata Oni Setiawan, dibantu stimulus anggaran dari pemerintah pada kelompok masyarakat yang mau memakai energi terbarukan. Namun, realisasi pendirian energi terbarukan ini harus meniti usulan dan keterlibatan masyarakat, agar kesinambungan dari pengadaan energi terbarukan dapat berjalan dengan baik.

“Kita kan memberi istilahnya itu stimulus, ya nanti masyarakatnya yang mengembangkan sendiri, kalau semuanya tergantung pemerintah kan ya kita juga bergulir, di daerah asing kan juga ada yang memerlukan, ada yang lebih prioritas kan begitu, Itu terseleksinya nanti melalui Musrenbang (musyawarah perencanaan pembangunan) biasanya. Nah, itu harus ada tawaran, soalnya kita sekarang tidak mampu serta merta membantu masyarakat mana tanpa ada koronologis perencanaan, ” kata Oni Setiawan kepada VOA. [pr/em]