Menlu: Indonesia Tidak Pernah Berniat Buka Hubungan Diplomatik dengan Israel

Menlu: Indonesia Tidak Pernah Berniat Buka Hubungan Diplomatik dengan Israel

Menteri Asing Negeri Retno Marsudi dalam bertemu pers, Rabu (16/12), menegaskan Indonesia tidak pernah berniat membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

“Sebagai tindak lanjut arahan Abu Presiden (Joko Widodo) kepada Gajah Luar Negeri (Retno Marsudi), kami ingin menyampaikan dua hal, yakni pertama, hingga saat ini tak terdapat niatan Indonesia untuk menggelar hubungan diplomatik dengan Israel, ” kata Retno

Retno menambahkan dukungan Indonesia terhadap kebebasan Palestina berdasarkan solusi dua negara dan parameter intrernasional lain dengan telah disepakati secara konsisten hendak tetap dijalankan.


Pemimpin Joko Widodo (kanan) berjabat lengah dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas (kiri) saat penutupan KTT Pola Luar Biasa Organisasi Kerja Persis Islam (OKI) ke-5 pada 7 Maret 2016 di Jakarta. (Foto: AFP/Garry Lotulung)

Komentar Retno itu menanggapi kabar yang berembus beberapa hari terakhir soal adanya buah antara pihak Indonesia dan Israel mengenai proses normalisasi hubungan kedua negara. Berita ini pertama kala ditulis tiga media Israel, yaitu Yediot Ahronot, Times of Israel, dan the Jerusalem Post.

Menurut Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera di Dewan Cabang Rakyat Sukamta, membela Palestina had menjadi sebuah negara merdeka & berdaulat merupakan amanat dari pembukaan konstitusi.

Kalau dilihat dari sisi kepentingan, lanjutnya, bertambah besar kepentingan Israel untuk membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia. Pasalnya, kata Sukamta, volume perdagangan Nusantara dan Israel kecil. Ditambahkan teristimewa kondisi ekonomi Israel lebih suram daripada Indonesia.

“Jadi Israel ini putus asa betul untuk mencari teman-teman baru. Sementara Indonesia, walaupun terkena pandemi, semacam disampaikan oleh Pak Presiden, menteri keuangan, pemerintah, Indonesia ini bakal segera tumbuh balik kembali kok, ” ujar Sukamta.

Sukamta menambahkan negara-negara Arab bersetuju membuka hubungan resmi dengan Israel karena ditakut-takuti dengan Iran dan ini terkait persoalan geopolitik dalam kawasan Teluk. Namun dia tahu Indonesia tidak memiliki persoalan sama dengan itu. Sehingga, lanjutnya, membuka ikatan diplomatik dengan Israel bukan situasi yang mendesak bagi Indonesia.

Soal dukungan sampai terwujudnya Negara Palestina yang merdeka serta berdaulat, Sukamta mengakui hal itu memang tidak mudah. Butuh kepintaran dan konsistensi. Kalau Indonesia tak konsisten, akan makin sulit bagi Indonesia untuk menyokong perjuangan Palestina meraih kemerdekaan.

Sukamta mengatakan salah satu hal mendesak yang mesti ditempuh Indonesia adalah mempersatukan faksi-faksi perjuangan di Palestina, termasuk Hamas serta Fatah. Dia meyakini pemerintah mampu melakukan itu seperti yang telah dilakukan di Afghanistan yang kini dalam proses perdamaian intra Afghanistan.

Meski tidak mempunyai hubungan diplomatik, Indonesia dan Israel menjalin kerja sama perdagangan & pariwisata. Pada 1970-an hingga 1980-an, Indonesia membeli persenjataan israeldan mengirim tentaranya untuk berlatih di negeri Bintang Daud itu. Perdana Gajah Israel Yitzhak Rabin juga hadir ke Jakarta menemui Presiden Soeharto pada 1993.

Dalam 2000, Presiden Abdurrahman Wahid menyambut lawatan Shimon Peres, waktu menjabat Menteri Kerja Sama Regional Israel. [fw/ft]