Menjelang Olimpiade, Sistem Kesehatan Jepang Kacau

menjelang-olimpiade-sistem-kesehatan-jepang-kacau-3

Sambil berjuang untuk menjadikan nafas, Shizue Akita harus menunggu lebih dari enam jam saat petugas paramedis mencari rumah sakit pada Osaka untuk merawat sakitnya yang kian memburuk kelanjutan COVID-19.

Era ia berhasil masuk ke salah satu rumah lara yang sepi, dokter mendiagnosanya menderita pneumonia akut dan mengalami kegagalan organ jadi harus dibius. Akita, dengan berusia 87 tahun, wafat dunia dua minggu lalu.

“Sistem kesehatan Osaka telah runtuh. ” kata putranya, Kazuyuki Akita. Ia hanya bisa menyaksikan dari rumahnya pada utara Tokyo saat tiga anggota keluarganya di Osaka berjuang melawan virus corona, tanpa adanya perawatan kesehatan yang memadai. “Rasanya kaya neraka, ” ujarnya.

Rumah-rumah sakit pada Osaka, kota nomor 3 terbesar di Jepang serta hanya 2, 5 jam perjalanan dengan kereta super cepat dari Tokyo ke lokasi Olympiade musim radang – kini kebanjiran anak obat yang terjangkit virus corona. Sekitar 35 orang dalam seluruh Jepang – besar kali lipat dari angka tersebut dirawat di rumah sakit – harus dikarantina di rumah, dan seringkali sakitnya bertambah parah & terkadang meninggal dunia sebelum mendapatkan perawatan medis.

Seiring dengan tingginya angka kasus pada Osaka, para tenaga medis mengatakan bahwa sistem kesehatan tubuh, dari semua sisi, telah melambat, meregang, dan membebani. Dan itu terjadi pada wilayah lain di Jepang.

Menikmati frustasi dan ketakutan sangat jelas saat The Associated Press mewawancarai sejumlah pekerja medis dan keluarga pasien pada Osaka. Suasananya sangat berbeda dengan kondisi di pokok kota Tokyo, di mana panitia Olimpiade dan pejabat pemerintah tetap bersikukuh buat melangsungkan acara di bulan Juli itu, Panitia mengatakan Olimipiade akan berjalan tenteram dan tertib meskipun suasana darurat menyebar ke semakin menjamur bagian negara itu dan bertambah banyak warga yang menyerukan pembatalan.

Beberapa pihak mereken kondisi di Osaka sebagai sebuah peringatan akan situasi yang bisa terjadi di seluruh bagian Jepang bila krisis ini memburuk pada saat pejabat pemerintah – & dunia – fokus dalam Olimpiade.

Pergulatan Osaka adalah “bencana buatan manusia, ” logat Akita kepada AP pada pesan tertulis, yang dikarenakan sebagian oleh pemerintah dengan mencabut kondisi darurat sekalipun melihat tanda-tanda akan berbaliknya serangan virus. Ia ada ibunya akan selamat bila dirawat lebih awal.


Pengunjuk rasa anti-Olimpiade memamerkan plakat di depan tonggak cincin Olimpiade. (Foto: REUTERS/Issei Kato)

Banyak awak di sini yang terjaga dengan apa yang terjadi. Bagaimanapun, Jepang adalah negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia dan telah menangani pandemi ini lebih baik daripada banyak negeri maju lainnya. Namun lonjakan kasus saat ini sudah membawa data harian orang yang sakit dan sekarat ke titik tertinggi hangat.

Kegaduhan tersebut paling terlihat di Osaka.

Paramedis, berbalut APD, tidak bisa memberikan nafas sintetis dari mulut ke menduri dan harus mengambil kesibukan pencegahan ekstrem untuk mencegah penularan dengan aerosol, kata pendahuluan pejabat dan tenaga kesehatan tubuh. Setelah sebuah ambulans mengangkut pasien COVID-19, kendaraan itu harus disinfektan selama mulia jam, memperlambat proses paramedis untuk menangani pasien berikutnya.

Pasien mendesak darurat hanya mendapatkan perawatan yang kebetulan tersedia saat itu, dan bukan pembelaan yang seharusnya memperbesar jalan mereka untuk bertahan tumbuh, kata ahli medis.

Seorang pasien yang menderita gagal dalaman, misalnya, ditolak oleh vila sakit darurat lanjutan, & seorang anak dengan kondisi kritis gagal mendapatkan vila sakit anak karena segenap penuh, menurut seorang paramedis di Osaka yang cuma mengungkapkan nama depannya, Satoshi, karena ia tidak berwenang untuk bicara dengan media. Anak itu kemudian meninggal, katanya.

“Tugas kami adalah membawa mereka yang sekarat & kondisinya memburuk ke sendi sakit, ” ia memasukkan. “Di situasi seperti tersebut, kami bahkan tak berharta melakukan tugas kami. ”

Saat petunjuk darurat lambat di sedang lonjakan kasus, dukungan terhadap pemerintahan Perdana Menteri Yoshihide Suga merosot. Sementara Dia menegaskan bahwa Jepang tenang untuk menggelar Olimpiade, jajak pendapat menunjukkan 60% mematok 80% warganya menentang pengoperasian ajang olah raga tersebut.

Sejauh ini belum ada tanda bahwa Olimpiade akan dibatalkan. Komite Olimpiade Internasional (IOC), yang telah menyelesaikan bagian rencana terakhirnya Jumat tersebut dengan Panitia Olimpiade Tokyo, telah berulang kali menyatakan bahwa mereka akan ulama terus.


Seorang hawa lanjut usia memberikan kode untuk mengucapkan apresiasi sesudah menerima vaksinasi COVID-19 di Itami, Jepang barat, 12 April 2021. (Foto: Kyodo via Reuters)

Tetapi anggota paling senior IOC, Richard Pound, dalam suatu wawancara dengan JiJi Press Jepang mengatakan bahwa tenggat waktu akhir untuk meniadakan ajang ini adalah “sebelum akhir bulan Juni. ” Pound mengulang apa yang disampaikan IOC bahwa bila Olimpiade tak bisa digelar musim panas ini oleh karena itu perhelatan itu akan dibatalkan, bukan ditunda lagi.

Sejumlah lembaga kesehatan Jepang mengatakan, mereka tak mampu mengakomodasi hajat medis Olimpiade di pusat tekanan akan meningkatnya pembelaan terkait virus corona.

Pada minggu ini Osaka telah melewati Tokyo, kota terbesar di negara itu, dengan total kematian akibat virus tertinggi, di angka 2. 036. Dari sekitar 15. 000 pasien di Osaka, hanya 12% yang dirawat dalam rumah sakit, sementara sisanya harus menunggu di vila atau di hotel. Berdasarkan data statistik kepolisian, nilai kematian akibat COVID-19 dengan terjadi di luar vila sakit di bulan April meningkat tiga kali lipat dibandingkan bulan Maret menjadi 96, termasuk 39 pada Osaka dan 10 dalam Tokyo.

Lalu mengapa kekacauan terjadi?

Sebagian penyebabnya adalah, karena perawatan COVID-19 yang tergolong non-profit, umum terbatas hanya pada panti sakit pemerintah, yang jumlahnya hanya seperlima dari 8000 rumah sakit di Jepang. Rumah sakit swasta, dengan kebanyakan berskala kecil, lalai atau tidak siap untuk menangani kasus terkait virus corona.

Pemerintah juga secara signifikan telah mengurangi jumlah was-was kesehatan lokal, yang menjelma kunci pencegahan penyebaran keburukan ini, dari sekitar 850 pada tahun 1990an menjadi 469 di tahun 2020, menyebabkan “penyumbatan” karena pegawai berkurang namun jam kerja bertambah.


Seorang pekerja medis mencoba melepas masker penjaga wajah di bangsal ICU untuk pasien COVID-19 dalam Rumah Sakit Universitas Kedokteran St. Marianna di Kawasaki, selatan Tokyo, Jepang, 4 Mei 2020. (Foto: REUTERS / Issei Kato)

Kurang dari 5% daripada sekitar 1. 5 juta ranjang rumah sakit di Jepang diperuntukkan bagi pembelaan COVID-19, meningkat dari kira-kira 1000 di bulan April tahun lalu, berdasarkan petunjuk Kementerian Kesehatan, namun langgeng saja jumlah itu tidak cukup.

Lonjakan kasus terbaru menunjukan urusan lebih serius yang cepat memenuhi rumah sakit.

Lebih dibanding 50 persen dari sekitar 55 kasus kematian kelanjutan virus Corona di rumah sakit Juso Kota Osaka berasal dari lonjakan terbaru, kata Dr. Yukio Nishiguchi, kepala rumah sakit. “Rasanya seperti bencana, ” ia menambahkan. [er/ah]