Menciptakan Karya Seni di Tengah Badai Salju

menciptakan-karya-seni-di-tengah-badai-salju-2

Pada suatu hari yang tampak cerah pada bulan September di Bolzano, Italia, Peter Senoner menciptakan karya seninya. Ketika Senoner membuat patung dan gambar, panel kontrol suhu di ruang kerjanya menunjukkan angka -9, 5 derajat Celcius. Seniman itu berada di ruang terraXcube di Pusat Penelitian Eurac, fasilitas penelitian swasta yang berspesialisasi dalam mensimulasikan iklim ekstrem.

Selama dua hari terakhir, delapan jam sehari, Senoner berusaha menciptakan karya seninya di ketinggian yang setara dengan 4. 000 meter.

Baginya itu adalah cara unik untuk menguji daya kreativitas seninya. “Yang lebih penting adalah menciptakan karya seni. Menciptakan seni dalam terraXcube memberikan kemungkinan baru yang unik, yang tidak bisa didapatkan di museum, galeri, atau ruang pameran, kepada kita, ” jelas Peter Senoner.

Walaupun tujuan utamanya adalah untuk menguji imajinasi Senoner, tubuh seniman itu juga ikut diuji. Sebelum memulai proyek ini, kesehatan sang artis dipantau secara ketat untuk memastikan bahwa dia cukup bugar untuk berada dalam iklim ekstrem yang diciptakan di ruang kerja itu.

Peter Senoner dan hasil karyanya dalam "An Antarctic expedition" di terraXcube. (Photo: @tiberio_sorvillo/IG @festivaansart)


Peter Senoner dan hasil karyanya dalam “An Antarctic expedition” di terraXcube. (Photo: @tiberio_sorvillo/IG @festivaansart)

Ruang iklim TerraXcube biasanya digunakan untuk mempelajari efek kondisi iklim dalam berbagai situasi.

Pusat itu dipimpin oleh Christian Steurer. “Ruangan ini menghasilkan suhu minus 10 derajat Celcius, dan dari situlah kami mulai. Kami kemudian mengisinya dengan salju dengan mengaktikan saluran salju. Kami juga mengadakan sedikit eksperimen dengan menyelimuti patung dengan es. Semuanya merupakan elemen yang dapat kami sediakan dalam terraXcube, tetapi kemudian seniman yang mewujudkannya, ” jelasnya.

“Kami telah menyepakati berbagai hal yang bersifat eksperimental dengan seniman. Dia perlu bereksperimen dengan semua itu juga. Konsep utamanya adalah bahwa kami menempatkan seorang seniman yang bekerja di lingkungan yang ekstrem dan dia mencoba melakukan pekerjaannya di sana, ” imbuh Steurer.

Beberapa pos telah disiapkan sebelumnya sehingga Senoner dapat mengerjakan berbagai proyek seiring berjalannya waktu.

Ruang kerja Peter Senoner dalam "An Antarctic expedition" di dalam terraXcube. (Photo: @tiberio_sorvillo/IG @festivaansart)


Ruang kerja Peter Senoner dalam “An Antarctic expedition” di dalam terraXcube. (Photo: @tiberio_sorvillo/IG @festivaansart)

“Saya akan bekerja melawan unsur-unsur ekstrem, dan saya mencoba untuk membersihkan patung-patung dari salju dan es. Kami telah menyiapkan meja kayu, dan di sana pula saya akan mengerjakan gambar-gambar botani, tanaman, yang sangat tipis dan mudah rusak dengan menggunakan grafit karena grafit adalah satu-satunya bahan yang dapat saya gunakan di dalam sana, pada suhu yang sangat rendah, dan grafit itu seperti penghubung ke otak dan tubuh saya, ” imbuh Peter Senoner.

Penggunaan terraXcube sementara oleh Senoner adalah bagian dari Transart Festival, festival multidisiplin terkenal dalam budaya kontemporer di Italia yang berusaha melibatkan khalayaknya dalam eksplorasi batas-batas seni kontemporer baru.

Pada hari kedua eksperimen, Senoner mengatakan dia lega bahwa pengaturan dalam ruang percobaan itu memungkinkan dirinya menyelesaikan banyak karya seni.

Festival Transart berlangsung dari 6 September hingga 24 September 2021 lalu di berbagai lokasi di Alto Adige, termasuk Noi Techpark, pusat inovasi tempat terraXcube berada. [lt/uh]