Memeriksa Ruang Penerimaan LGBT dalam Agama-Agama

Memeriksa Ruang Penerimaan LGBT dalam Agama-Agama

Bagi Sofa Lahjuba, ekspresi gendernya bukan penghalang untuk tetap dekat dengan Sang Pencipta. Transpuan yang aktif dalam Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos) ini bahkan mendorong komunitasnya buat terus beribadah. Sofa dan sebanyak transgender mengembangkan majelis taklim Al-Ikhlas di Surabaya. “Ada juga teman gay ikut gabung, gantian panti ke rumah, kota ke tanah air. Ada kyai pendamping, lancar, tidak ada kritik, ” kisahnya.

Sofa, yang lahir dan besar di lingkungan pesantren, makin bersilaturahmi dengan pengurus masjid. Dia meminta izin supaya waria mampu mengikuti sholat malam saat kamar Ramadan. “Mereka menyambutnya welcome , apalagi takmir-takmirnya salaman, memperkenalkan diri. Jadi tidak tersedia yang perlu kita takuti selama kita beretika baik, bersikap indah, ” tambahnya.


Ibu Shinta (tengah) bersama murid-muridnya di satu-satunya pesantren untuk transpuan di Yogyakarta. (K. Varagur/VOA)

Transpuan dengan sudah menunaikan ibadah haji itu bahkan mendorong rekan-rekannya untuk lari ke tanah suci. Dia jadi membantu mencarikan jasa travel makin bantuan dana. “Ayo saya punya kenalan travel yang ramah terhadap waria, kan banyak juga kan travel yang nawarin. Ayo pada tempatku nggak apa, aku daftarin ke sana, ” lanjut Sofa.

Dia berharap, kawasan penerimaan agama semakin luas supaya komunitas transpuan bisa terus beribadah. Dia berharap para tokoh keyakinan terus mengupayakan dialog.

Ruang Penerimaan Agama Islam

Keberagaman gender sebetulnya disebutkan dalam literatur besar Islam, menurut Komisioner Komnas Rani, Imam Nakha’i. Imam mengatakan, sejumlah hadits menyebut keberadaan orang yang terlahir sebagai mutarojilat (perempuan berekspresi maskulin) dan mutakhosinat (laki-laki berkespresi feminin).


Komisioner Komnas Perempuan Kyai Imam Nakha’i dalam diskusi virtual ‘Meneroka Keyakinan yang Tidak Homofobia’, Rabu (24/6) siang.

“Ada memang ekspresi tersebut yang terberikan, dari sononya, semenjak kecil memang sudah memiliki ekspresi-ekspresi yang berbeda dengan jenis kelaminnya, ” paparnya dalam sebuah permufakatan baru ini.

Imam menjelaskan, dalam kitab Faidul Qhodir Syarah Jami’ As Shogir, apalagi disebutkan bawaan lahir itu tidak bisa dicap sebagai dosa.

“Menurut kitab Faidhul Qadir, orang yang diciptakan semacam itu, artinya memiliki ekspresi gender berbeda daripada jenis kelaminnya sejak awal, benar given , itu katanya tidak ada dosa dan tidak ada caci maki bagi mereka, ” tambahnya.

Sementara peristiwa yang menimpa kerabat Luth, yang banyak ditafsirkan buat menolak LGBT, menurut Imam telah salah dipahami. Dia mengatakan, warga Sodom dihukum karena perilaku seksnya, bukan orientasi seks.

Tuhan Ciptakan Manusia dalam Keadaan Baik

Hal senada disampaikan pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI) Stephen Suleeman, yang mengatakan kisah Sodom & Gomorah memang sering digunakan buat menentang LGBT. Padahal, menurut Stephen, dalam Yehezkiel dan Yeremia disebutkan kejahatan Sodom adalah karena keserakahan mereka dan ketidakpedulian terhadap anak-anak yatim dan janda. “Anehnya punca Yehezkiel dan Yeremia ini tak pernah dipakai oleh para penganalisis konservatif yang mengutuk kota Sodom sebagai pusat dosa seksual itu, ” tandasnya.

Stephen menegaskan, Tuhan menciptakan manusia di keadaan baik. Hal ini aci juga bagi individu LGBT. “Itu berarti LGBT pun sebagai gubahan Tuhan harus diterima sebagai karya yang baik. Kita tidak dapat memusuhi mereka, mengucilkan mereka, & karena itu kita harus menerima mereka sebagai bagian dari kita, ” tambahnya yang pernah aktif mengajar di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta ini.

Ardanariswara dalam Hindu

Selain dalam kebiasaan Abrahamik, keberagaman gender juga terlihat dalam agama Hindu. Pengajar Filsafat Universitas Indonesia, Saras Dewi, mengutarakan ada pertemuan dua gender di Ardanariswara, sosok bersatunya Siwa yang maskulin dan Parwati yang feminin. “Jadi penyatuan antara Siwa & Parwati bahkan, bagi mereka dengan menganutnya sebagai suatu aliran kejiwaan, dianggap sebagai bentuk kesempurnaan lantaran realitas atau wujud sejatinya Tuhan, ungkap Saras.

Bersatunya dua entitas itu, tambah Saras, nampak lewat penggambaran sosok Ardanariswara dalam berbagai ikonografi Hindu. Di 2018, Parisada Hindu Dharma Nusantara (PHDI) menerbitkan ‘fatwa’ yang terbatas terhadap LGBT. Meski begitu, perkataan Saras, kisah-kisah dalam agama Hindu sangat menghargai keberagaman gender.

“Jadi cerita-cerita itu sudah membentuk pikiran, folklore itu sudah membentuk pikiran, bahwa seks itu nggak cuma laki-laki serta perempuan, tetapi banyak ekspresi ataupun bahkan orientasi yang berbeda-beda, dengan beragam, ” pungkasnya. [rt/em]