KRI Nanggala Dipastikan Retak, Tidak Meledak

kri-nanggala-dipastikan-retak-tidak-meledak-2

TNI Angkatan Laut (AL) pada Sabtu (24/4) memastikan bahwa kapal menyelundup KRI Nanggala tidak meledak. Kapal tersebut hilang pada Rabu (21/4) di Laut Bali dan kemudian dinyatakan tenggelam pada Sabtu (24/4).

TNI AL sebelumnya melaporkan Sabtu (24/4) bahwa benda-benda yang ditemukan dari kapal selam yang hilang itu, mengindikasikan kalau kapal yang mengangkut 53 awak itu tenggelam dan tak ada harapan menemukan korban dalam keadaan terjamin.


Kepala Staf TNI Barisan Laut Laksamana TNI Yudo Margono dalam keterangan pers di Jakarta, 24 April 2021. (Foto: Courtesy/TNI)

Kepala Staf Angkatan Bahar (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono menyampaikannya dalam konvensi pers di Bali.

“Tidak meledak, kalau meledak pasti sudah buyar semua, ” katanya, bagaikan dilaporkan Associated Press .

Yudo mengatakan bahwa penyelidikan telah memasuki fase anyar dengan pertimbangan bahwa kapal selam itu tenggelam tanpa korban selamat.

Para pakar mengatakan prospek kapal selam itu retak akibat tekanan air.

“Kini terserah pada para penyelidik untuk menetapkan kronologinya dan menyimpulkan penyebabnya. Pada waktu yang pas, rencana-rencana pasti sudah disusun untuk meninjau kemungkinan mengakui kapal selam itu dibanding kedalaman yang sangat berlebihan, ” kata Collin Koh, periset Institut Studi Pertahanan dan Strategi kepada Reuters .


Awak TNI AL terlihat berada di atas kapal selam KRI Nanggala-402 saat muncul di Surabaya, Jawa Timur, 6 Februari 2012. (Foto: Antara / Risyal Hidayat via REUTERS)

“Secara teknis itu mungkin dilakukan, meski saya yakin Nusantara harus menggunakan bantuan asing. ”

Para petugas penyelamat telah mengerahkan belasan helikopter dan pesawat serta ratusan personel militer ke wilayah di mana kapal selam KRI Nanggala 402 hilang kontak dalam Laut Bali. AS, Australia, Singapura, Malaysia dan India termasuk negara-negara yang menyerahkan bantuan.

Kepala Operasi AL AS, Laksamana Mike Gilday, mengatakan sangat sedih mendengar kapal selam Indonesia yang diyakini tenggelam. Dia mendoakan para pelaut dan keluarga yang ditinggalkan.

“Sebagai pelaut, kita sama-sama mencintai bahar dan memiliki ikatan dengan semua yang berlayar dalam laut. Kami memahami bahayanya dan juga memahami pentingnya lautan bagi kehidupan kita semua. ”

Dia menambahkan, “Tak diragukan lagi, Indonesia adalah kawan dan mitra yang cantik. Terlepas dari peristiwa yang tragis ini, saya harap kita akan terus hidup sama dalam mendukung Indo-Pasifik yang bebas dan terkuak. ”

AS telah mengirim satu udara Poseidon P8A dengan sistem sensor canggih yang sanggup mendeteksi gerakan statis dan pasif aktif di kolong permukaan air.

TNI AL mengatakan pantas menyelidiki apakah kapal menghunjam itu kehilangan tenaga masa tenggelam dan tidak bisa melakukan prosedur darurat ketika jatuh ke kedalaman 600-700 meter. Kapal selam tersebut hanya bisa bertahan di kedalaman paling jauh 200 meter. [vm/ah]