Kisah Perjuangan Panjang Perempuan Amerika buat Dapatkan Hak Pilih

Kisah Perjuangan Panjang Perempuan Amerika buat Dapatkan Hak Pilih

Seratus tahun yang lalu, pada bulan Agustus, hawa di Amerika diberi hak buat memberikan suara dalam pemilihan ijmal lewat Amandemen Konstitusi ke 19. Amandemen ini diusulkan di Kongres tahun 1878, dan baru lebih dari 40 tahun kemudian diloloskan oleh Kongres.

Pejuang hak-hak perempuan pada simpulan abad ke 19 dan asal abad ke-20 menghadapi perjuangan lama dan sulit.

“Banyak sekali cemoohan dan olok-olok yang diarahkan kepada perempuan-perempuan itu, ” kata Andrea DeKoter, pejabat pengawas pada Women’s Rights National Historical Park.


Luis Da Costa Tahun 2020 menandai ulang tahun ke-100 Amandemen ke-19 Konstitusi AS yang meluluskan perempuan hak untuk memilih. (Foto: VOA)

Perjuangan bagi hak seleksi perempuan dimulai tahun 1848 di konvensi hak-hak perempuan yang berlangsung di sebuah gereja di Seneca Falls, New York. Para delegasi ke konvensi ini menyusun suatu draft yang menyerukan kesetaraan hawa dan laki-laki, termasuk hak buat memilih.

“Mereka mengatakan, laki-laki dan perempuan diciptakan setara, Pernyataan itu dipinjam lantaran Deklarasi Kemerdekaan, tetapi ditambahi perubahan yang bermakna, dengan menambahkan kata pendahuluan perempuan, ” katanya.

Ketika perempuan berjuang untuk menerima hak pilih selama lebih lantaran 70 tahun, perempuan kulit hitam tidak diperbolehkan ikut oleh kelompok kulit putih.

“Perempuan Amerika keturunan Afrika lewat organisasi mereka, masyarakat anti-perbudakan, konvensi gereja, dan organisasi hak-hak biasa, dalam waktu dua abad, menggelar gerakan perempuan mereka sendiri, ” kata Marthe S. Jones, profesor ilmu sejarah di Johns Hopkins University.

Ketika kedudukan perempuan berubah pada awal kurun ke-20, sebuah generasi baru hawa melanjutkan perjuangan. Mereka menggiatkan protes mereka –mengorganisir parade, dan menyelenggarakan pemogokan. ”

“Mereka ikut dalam kumpulan laki-laki di gerbang pabrik ketika bubar makan siang dan berdiri dalam atas bangku kecil. Lalu mereka berpidato, isinya menuntut hak pilih perempuan guna mendapatkan dukungan pria, ” kata Ellen Carol DuBois, ahli sejarah gerakan hak pilih perempuan.

Kepala Woodrow Wilson mendukung rancangan amandemen itu pada tahun 1918, serta draft itu diratifikasi dua tahun kemudian.


Telah seratus tahun sejak Amandemen ke-19 disahkan yang memberi perempuan sah untuk memilih di Amerika Serikat. (Foto: VOA)

Namun satu kurun kemudian, banyak perempuan dihadapkan di pembatasan ketika memilih, khususnya hawa kulit hitam.

“Mereka sebagian besar dihadapkan di dalam persyaratan identitas yang lebih saksama. TPS-TPS di tempat tinggal itu tidak dibuka, dan nama-nama itu dihapus dari daftar pemilih, ” kata Martha S. Jones.

Ketidaksetaraan seperti ini cuma bisa diselesaikan lewat Amandemen Hak-Hak Kesetaraan atau ERA, demikian cakap para aktivis perempuan. Rancangan Amandemen ini sudah diusulkan sejak 1923.

“Kita tidak bisa melakukan diskriminasi berdasarkan gender. Dan ini berlaku untuk negeri federal, serta semua kebijakannya, dan juga di ke 50 negeri bagian, ” kata Eleanor Smeal, pemimpin Feminist Mayority Foundation.

Masa depan sebab ERA saat ini tidak menentu, tetapi seperti para pendahulu itu yang memperjuangkan hak pilih, para aktivis perempuan masa kini berkeinginan untuk terus memperjuangkan diloloskannya MASA sebagai UU di Amerika. [jm/ii]