ITTS Buat Alat Pemulasaraan Jenazah untuk Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19

ITTS Buat Alat Pemulasaraan Jenazah untuk Pemakaman Jenazah Pasien Covid-19

Institut Teknologi Telkom Surabaya (ITTS) mengumumkan dasar tiga alat bantu pemulasaraan jenazah akibat virus corona, yang selama ini pemakamannya sulit dilakukan oleh para petugas medis maupun relawan. Tiga alat itu terdiri daripada usungan ( stretcher ), rel motor tempat usungan, serta alat pengangkat (crane ) peti jenazah di liang kubur.

Rektor ITTS Tri Arif Sardjono mengatakan, konsep usungan, rel gerobak, hingga crane pengangkut peti jenazah, didesain sedemikian rupa sehingga merendahkan pengangkutan peti jenazah akibat virus corona sampai ke dalam lubang kubur.


Rektor ITTS Tri Arif Sardjono menerangkan cara kerja alat pemulasaran jenazah Covid-19 karyanya, Surabaya, 13 Mei 2020. (Foto: Petrus Riski/VOA)

“Konsepnya merupakan konsep stretcher , kemudian dia harus bisa meresap dan keluar dari ambulans dengan membawa peti dengan mudah. Maka kaki-kakinya harus bisa menekuk dalam ambulans. Tetapi karena dia menetapkan peti jenazah Covid-19, pasti jauh lebih berat, jadi stretcher ini kudu lebih kuat. Nah, kemudian menyandarkan petinya juga begitu, jangan karakter, harus ada crane yang mencoba mengangkat peti, kemudian stretchern ya ditarik, kemudian petinya diturunkan pelan-pelan, ” papar Tri Arif Sardjono.

Cita-cita awal pembuatan alat bantu pemulasaran jenazah ini, kata Tri Bakir, berawal ketika melihat video pemakaman penderita corona yang sulit dilakukan. Selain harus menggunakan peti yang berat, petugas pemakaman juga merasai kesulitan karena harus mengikuti protokol pemakaman jenazah Covid-19, yakni secara mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap.

“Susahnya tersebut karena petinya ini kan mati, kemudian berat. Jadi tidak serupa pemakaman yang biasa, ya kala jenazah kita terima di lembah di liang lahat, kalau peti tidak mungkin. Teman-teman yang pakai APD itu sekarang ini ada yang menggunakan tali, jadi di liang lahat ditahan dulu, ada empat orang pegang masing-masing ikatan, kemdian ada juga yang membawa peti, petinya digeser pakai tali, kemudian diturunkan bareng-bareng empat orang. Nah itu sulit ini menurunkannya, rasanya, ” kata Tri Arif.


Simulasi penggunaan crane pengangkat peti jenazah COVID-19 sedang menurunkan peti ke liang kubur, Surabaya, 9 Mei 2020. (Foto: Petrus Riski/VOA)

Ditambahkan oleh Helmy Widiantara, dosen Teknologi Informasi ITTS, yang juga anggota tim perancang, jalan bantu pemulasaran jenazah ini bakal terus dikembangkan hingga pelaksanaan pemakaman tidak banyak melibatkan orang karena dikendalikan dengan sistem robot sebab jarak yang aman.

“Berikutnya kan, stretcher (usungan) ini nani akan dilengkapi dengan motor sehingga turun dari ambulance kemudian menuju ke tempat ini, ke wadah liang lahat itu dikendalikan sebab joy stick, kemudian ketika sampai pada sana, setelah rel terpasang oleh karena itu stretcher akan naik ke atasnya jalan kereta api tadi. Membongkarnya akan mudah masa cranen ya itu sudah dinyalakan, sehingga petinya kan sudah terangkat, ketika petinya terangkat, tidak ada beban teristimewa, baru itu (rel) diambili satu demi satu, ” imbuh Helmy.

Tri Arif berniat, alat bantu pemulasaraan jenazah ini dapat diproduksi massal, sehingga bisa membantu daerah-daerah dalam melaksanakan pemakaman jenazah akibat virus corona.

Alat ini kata Tri Arif, akan diserahkan kepada Negeri Kota Surabaya, sehingga dapat digunakan membantu penanganan pasien dan jenazah akibat corona. [pr/em]