Inspeksi: 63% Warga Yahudi-Amerika Sudah Alami atau Saksikan Anti-Yahudi

survei-63-warga-yahudi-amerika-pernah-alami-atau-saksikan-anti-yahudi-1

Di dalam era di mana kesedihan terhadap keberadaan ekstremisme pengaruh kanan di Amerika Konsorsium semakin besar, sebuah survei baru menggambarkan potret dengan merisaukan dari pengalaman warga Yahudi-Amerika dengan anti-Yahudi.

Survei yang dirilis pada Rabu (31/3) oleh Liga Antifitnah ( Anti-Defamation League/ADL ), sebuah kelompok pembela hak-hak Yahudi yang terkemuka pada Amerika Seritkat (AS), menunjukkan 63 persen warga Yahudi-Amerika telah mengalami atau menyaksikan sikap anti-Yahudi dalam lima tahun terakhir. Ini merupakan peningkatan besar dibanding survei yang sama tahun awut-awutan, yaitu sebesar 53 tip.

Pada era yang sama, 59 tip responden dalam survei tahun ini mengatakan dibanding mulia dekade lalu, mereka ngerasa orang Yahudi tidak damai di Amerika. Sebanyak 49 persen mengungkapkan rasa kecil dengan terjadinya serangan kebengisan terhadap sinagog.

“Apa yang disampaikan dalam laporan ini ialah sebuah paparan sangat besar dari apa yang dialami warga Yahudi-Amerika kini. Serta itu jelas merupakan buah dari berbagai bentuk anti-Yahudi atau ungkapan anti-Yahudi, ” kata Jessica Reaves, Eksekutif Center on Extremism di ADL.

Survei yang dilakukan dalam 7 – 15 Januari tersebut mengumpulkan jawaban sejak 503 warga Yahudi-Amerika leler 18 tahun keatas. Pemisah kesalahan ( tepi of error ) hasil ini adalah plus atau minus 4, 4 persen.

Patuh perkiraan Pew Research di dalam 2013, sekitar 4, dua juta warga dewasa Amerika mengidentifikasi Yahudi “sebagai petunjuk, ” mewakili 1, 8 persen dari populasi dewasa AS.

Sebuah perkiraan yang lebih inklusif oleh “The American Jewish Year Book 2019” menunjukkan angka 6, 9 juta. Kebanyakan warga Yahudi-Amerika susunan di kota-kota besar dalam mana sebagian besar kedurjanaan bermotif kebencian ( hate crime ) anti-Yahudi terjadi.

Temuan baru itu diketahui ketika kota-kota gede di Amerika melaporkan penurunan tajam angka kejahatan bermotif kebencian anti-Yahudi pada 2020, setelah mengalami kenaikan di dalam 2019 ketika warga Yahudi menjadi sasaran nomor satu daripada kejahatan bermotif kebencian dalam New York, Los Angeles, dan Chicago.

Meurut para pakar, penurunan kejahatan bermotif kebencian anti-Yahudi tahun lalu turun ketika diberlakukannya pembatasan sosial akibat pandemi virus corona, sehingga peluang untuk tatap depan sangat berkurang.

Akibatnya, kebanyakan sikap anti-Yahudi yang dialami orang Yahudi-Amerika terjadi di internet. Sebesar 36 responden dalam inspeksi ADL mengatakan mereka menghadapi beberapa bentuk pelecehan dalam dunia maya. Namun, Reaves mencatat, hanya 29 persen yang melaporkan ancaman dan pelecehan di platform media sosial, yang merupakan kemerosotan dari 43 persen pada 2020. [jm/em]