Indahnya Berlebaran Bagi Diaspora Sesudah Vaksinasi

indahnya-berlebaran-bagi-diaspora-setelah-vaksinasi-4

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) yang tercantum pada Covid Data Tracker minggu ini mencatat, setidaknya 116 juta penduduk Amerika Serikat (AS) telah divaksinasi secara penuh atau sudah mendapatkan suntikan vaksin dengan kedua.

Belum lama ini Presiden Joe Biden mengumumkan target kalau pada hari Kemerdekaan GANDAR pada 4 Juli, sedikitnya 160 juta orang kala telah menerima vaksinasi penuh atau setidaknya 70 persen penduduk dewasa di AS yang telah menerima suntikan pertama vaksin COVID-19. Tatkala itu, dengan keluarnya kerelaan Badan Urusan Pangan serta Obat-obatan Amerika (FDA) bagi vaksin yang dikembangkan Pfizer-BioNTech untuk digunakan remaja usia paling muda 12 tarikh, semakin besar pula gabungan warga yang memenuhi sarana untuk divaksinasi.

Sejalan dengan ini, bisa dipastikan pula semakin banyak diaspora Indonesia di GANDAR yang telah menerima ataupun akan divaksinasi. Itu tentunya merupakan kabar gembira untuk mereka yang telah lama rindu berkumpul atau menderita teman dan sanak ahli dalam suasana silaturahmi. Dengan Lebaran tahun ini mengikuti tahun kedua di tengah pandemi yang berkepanjangan, tak dapat disangkal bahwa secara semakin banyak vaksin yang sudah diberikan kepada masyarakat, semakin besar pula harapan warga untuk kemungkinan berkumpul serta merayakan Idulfitri bersama.


Geliga Purnama dan keluarga. (Foto: Dok Pribadi)

Geliga Purnama adalah diaspora Nusantara yang tinggal di kota Woodbridge, Virginia. Tahun ini merupakan yang ke-26 kala ia sekeluarga berlebaran dalam Amerika. Setelah ia sekeluarga divaksinasi, ia berharap bisa bersilaturahmi dengan saudara dan teman-teman walau tetap mewujudkan protokol kesehatan. Kepada VOA , Geliga menceritakan betapa bedanya situasi lebaran yang ia rasakan pada awal pandemi tahun lalu.

“Lebaran tahun kemarin tersebut kita semua di sendi, nggak kemana-mana. Semua pada keadaan ketakutan, stress. Oleh karena itu semua gak ada yang berani keluar rumah karena pandemi, ” katanya.

“Nah, untuk Lebaran tahun ini, dibandingkan dengan tahun kemarin, Alhamdulillah sungguh beda banget, karena sekarang ini kita merasa lebih lega, senang, bahagia, sebab kami semua sudah divaksin(asi), jadi sudah agak bebaslah dibandingkan pada Lebaran tahun kemarin, ” tambah Geliga.

Harapan serupa diutarakan Bram Djermani, warga Indonesia dengan sudah 30 tahun berada di Amerika dan kini tinggal di kota Millcreek, Washington State. Pada awal pandemi tahun lalu Bram dan keluarga mengisi Bulan berkat hingga Lebaran di sendi. Berbagai kegiatan masjid ia ikuti secara online. Tahun ini, yang paling ia nantikan adalah kesempatan salat Id bersama.


Bram Djermani dan keluarga. (Foto: Dok Pribadi)

“Tahun ini dengan adanya vaksinasi, sangat mungkin akan diadakan doa Id bareng di lapangan terbuka. Tahun lalu sebab enggak tahu kapan vaksinnya datang, otomatis kita dalam rumah, tahun ini Lebaran bisa diadakan. Bisa bersemuka kembali setelah setahun tidak bertemu dengan teman-teman. ”

Sementara tersebut bagi Sari Alamsjah beriringan suami dan kedua anak mereka yang baru mulia setengah tahun tinggal dalam AS, Lebaran tahun berantakan merupakan pengalaman yang cukup menyedihkan. Warga Indonesia dengan kini tinggal di Germantown, Maryland tersebut baru selalu pindah ke AS buat memulai hidup baru sesudah mendapatkan greencard melalui Diversity Visa lottery.


Sari Alamsjah dan keluarga. (Foto: Dok Pribadi)

Lebaran di dalam awal pandemi merupakan Lebaran pertama Sari jauh dibanding keluarga besar di Jakarta, alhasil ia sekeluarga tak bisa bersilaturahmi, terpaksa memasukkan segala kegiatan keluarga gede secara daring, dan yang paling penting, tidak bisa melakukan salat Id dalam masjid. Tahun ini, setelah menjalani vaksinasi, muncul jalan.

“Tahun itu kita rencana salat Id di masjid terdekat, & silaturahim dengan keluarga & kerabat yang ada di Amerika, ” katanya.

Tak dapat disangkal bahwa menyusun rencana buat berlebaran merupakan hal dengan menyenangkan bagi banyak orang. Setidaknya itulah yang dirasakan Fahmi Adenan, diaspora Indonesia yang sudah lebih dibanding 20 tahun tinggal pada Amerika dan kini berkedudukan di kota Seattle, Washington State. Pria yang saat ini bekerja pada ‘design firm’ maskapai penerbangan ini dengan antusias bercerita kepada VOA rencananya berbagi menu apa saja yang akan dimasak pada hari kemenangan.


Fahmi Adenan dan keluarga. (Foto: Dok Pribadi)

“Rencana kita Lebaran ini, kita akan salat bersama puak di pagi hari, kita mengundang dua teman depan, tentunya mereka sehat kondisinya, lalu kita makan bersama-sama dengan menu sederhana, program kita akan membuat lontong, sambal goreng hati, daun dan menggoreng kerupuk. ”

Bagi Fahmi, Sari, bahkan Bram serta Geliga, Lebaran tahun itu merupakan saat yang penting. Setelah menerima vaksin, segala hal yang hanya sanggup mereka harapkan pada Lebaran tahun lalu, kini menjadi kenyataan. Namun mereka hendak terus mempertahankan langkah-langkah pencegahan dan protokol kesehatan. [aa/ka]