Idulfitri: Butuh Konsistensi Pemerintah serta Rasionalitas Masyarakat

idulfitri-butuh-konsistensi-pemerintah-dan-rasionalitas-masyarakat-3

Sikap rasional ketika merayakan lebaran di era perebakan pandemi ini mampu ditunjukkan dengan bersikap serta berperilaku sesuai dengan aturan kesehatan dalam keseharian.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir, menyebut apa yang terjadi pada sejumlah negara dengan mengalami lonjakan kasus COVID-19 harus menjadi pelajaran beriringan. Untuk itu diperlukan tingkah laku waspada, saksama, disiplin dan mengikuti protokol kesehatan.


Kepala Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir. (Foto: tahanan layar/Nurhadi Sucahyo/VOA)

“PP Muhammadiyah berharap pemerintah konsisten, agar kebijakan melarang mudik juga disertai dengan pengoperasian seluruh kegiatan publik yang memancing atau memberi daya kerumunan massa. Tempat wisata, ruang-ruang publik dan lain sebagainya. Agar ada penghampiran dan langkah yang kelengkapan dan stimultan, ” ujar Haedar dalam paparan pada media di Yogyakarta, Senin (9/5).

Aksi saksama dalam menghadapi pandemi, kata Haedar, bukanlah paranoid terhadap apa yang terjadi karena hingga saat ini hampir 3 juta karakter di seluruh dunia, tercatat lebih dari 47 ribu orang di Indonesia, wafat karena COVID-19.

Sikap saksama juga harus diikuti oleh kepedulian, terutama bagi masyarakat yang terdampak pandemi dari sisi ekonomi. Masyarakat juga diminta mampu bersikap rasional menyikapi larangan mudik lebaran tahun itu.

“Dalam konteks mudik, tentu harus tersedia kesadaran kolektif kita. Masa pemerintah melarang, kita mampu menunda atau bersabar untuk tidak mudik, demi hajat kita, keluarga dan klub luas, ” tambah Haedar.


Para petugas Dishub serta polisi menjaga pos pemeriksaan di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, saat penerapan kekangan mudik nasional untuk menghalangi penyebaran pandemi COVID-19, Minggu, 9 Mei 2021. (Foto: Achmad Ibrahim/AP)

Ditambahkannya, Muhammadiyah mengajak seluruh awak bangsa khususnya kelompok elit pemimpin masyarakat, untuk mengabulkan gerakan kolektif keteladanan.

“Jika elit klub tidak memberi teladan yang baik, maka masyarakat pula tidak akan berperilaku bagus, dan mungkin juga akan mengikuti apa yang ada di elitnya, ” tambahnya.

Haedar tahu, ada pepatah yang mengucapkan bahwa ikan busuk dimulai dari kepalanya.

Idulfitri 13 Mei

PP Muhammadiyah juga menetapkan, satu Syawal 1442 H lepas pada Kamis, 13 Mei 2021. Setiap tahunnya, organisasi ini menghitung jatuhnya introduksi bulan dengan perhitungan astronomis, untuk mencari posisi matahari dan bulan secara pas.


Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Dr. Agung Danarto. (Foto: Nurhadi Sucahyo/VOA)

Terpaut perayaan Lebaran, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Dr. Terkenal Danarto memaparkan sejumlah kesimpulan organisasi tersebut, antara asing menganjurkan warga melakukan takbir Idulfitri di rumah. Pengkhususan diberikan pada lingkungan tanpa kasus positif COVID-19, dalam mana takbir dapat dikerjakan di masjid, dengan jumlah jemaah terbatas dan implementasi protokol kesehatan secara ketat.

Untuk doa Idulfitri, bagi masyarakat dengan di lingkungannya terdapat anak obat positif, salat sebaiknya dilakukan di dalam rumah. Bila tidak ada warga tertular, ibadah dapat dilaksanakan pada lapangan kecil atau wadah terbuka dalam jumlah kelompok terbatas. Pelaksanannya juga kudu mengikuti panduan yang sudah disosialisasikan selama ini.

Agung Danarto menambahkan, semua warga bangsa sepatutnya mematuhi larangan mudik dengan ditetapkan pemerintah.

“Memang berat meninggalkan tradisi mudik yang memiliki kebaikan positif bagi persaudaraan dalam tempat asal. Tetapi sebab situasi pandemi maka bakal lebih maslahat bila seluruh pihak ikhlas dan menunjukkan kearifan kolektif, ” ujarnya.


Seorang petugas di terminal keberangkatan pada hari pertama pemberlakuan larangan mudik Idul Fitri dari 6-17 Mei, di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dalam Palembang, Sumatra Selatan, 6 Mei 2021. (Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto via Reuters)

Muhammadiyah juga membakar kaum muslimin untuk memaknai Lebaran kali ini sebagai momentum praktik keislaman yang menyemai nilai-nilai kebaikan, perdamaian, keadilan, sikap tengahan, persaudaraan, dan kebajikan utama dalam kehidupan.

“Jadikan momentum Idulfitri untuk mengaktualisasikan takwa dan kesalehan diri dalam kehidupan pribadi, rumpun, masyarakat, bangsa, kemanusiaan secara universal. Dalam upaya membikin solidaritas sosial di tengah pandemi, dibutuhkan sikap berseloroh sayang dan peduli kepada sesama, persaudaraan, dan kebersamaan yang melintasi tanpa segregasi, ” tambah Agung.

Dasar Penetapan 1 Syawal

Terkait penetapan satu Syawal, pakar falak Muhammadiyah, Oman Fathurrahman menjelaskan bahwa konjungsi matahari dan bulan akan terjadi pada Rabu, 12 Mei 2021 jam 02. 03. 02 WIB. Konjungsi adalah saat matahari dan bulan berada pada satu garis yang cocok, atau memiliki sudut 0 derajat. Karena itulah, hilal sudah terwujud pada sore harinya, ketika matahari masuk pukul 17. 29 WIB. Kemunculan hilal tersebut mencatat 1 Syawal 1442 H jatuh pada Kamis, 13 Mei 2021.


Pakar falakh PP Muhamamadiyah, Oman Fathurrahman. (Foto: tangkapan layar/Nurhadi Sucahyo/VOA)

“Pada saat matahari terbenam, kita memperoleh bahan tinggi bulan pada masa itu 5 derajat 31 menit. Artinya ketika matahari terbenam, bulan masih pada atas ufuk, belum terlupakan, dengan ketinggian 5 posisi 31 menit, ” ujar pakar falak, Muhammadiyah Oman Fathurrahman

Muhammadiyah menetapkan 3 kriteria terwujudnya hilal, sebagai penanda kamar baru. Pertama, harus telah terjadi konjungsi yang selalu disebut sebagai ijtimak dalam ilmu falak. Satu siklus bulan secara astronomis, kata Oman, adalah dari satu konjungsi ke konjungsi selanjutnya.

Kriteria ke-2 adalah konjungsi itu harus terjadi sebelum matahari masuk, karena pergantian bulan kudu sesuai dengan pergantian keadaan. Sedang ketiga bilamana terbenamnya matahari, bulan masih dalam atas horizon atau dalam atas ufuk, untuk menetapkan bahwa matahari berada pada sebelah barat bulan.

“Waktu pergantian keadaan itu saat terbenam matahari. Konjungsi terjadi, kemudian masuk matahari. Konjungsi harus meninggalkan atau sekurang-kurangnya bersamaan dengan terbenamnya matahari, ” tambahan Oman. [ns/em]