Hubungan Sosial Penting Bagi Lansia Selama PandemiÂ

hubungan-sosial-penting-bagi-lansia-selama-pandemia-4

Pandemi sudah menyebabkan orang-orang lanjut usia (lansia) di seluruh dunia semakin tersisih dari lingkungan sosial. Meskipun mereka biasanya adalah kelompok usia dengan paling patuh pada PPKM dan menjauhkan diri sejak kerumunan, namun para pakar menganjurkan lansia tetap perkara secara sosial demi kesehatan tubuh fisik dan mental itu.

WHO dalam studinya baru-baru tersebut mengatakan satu diantara penyebab stress pada lansia di semesta dunia adalah rasa kesepian. Ini dikarenakan selama pandemi lansia yang tergolong ikatan rentan, harus lebih mengelola jarak sosial dan kerumunan. Tapi ada cara-cara pertama bagi lansia untuk menjaga hubungan sosial ini selama pandemi.


Psikolog Ninuk Widyantori (Photo Courtessy).

Ninuk Widyantoro, psikolog senior Indonesia, menjelaskan kegiatan sosial lansia berbeda-beda berdasarkan bagian usia menurut psikologi baik yaitu; Young-Old (65-74 tahun), Old-Old (75-84 tahun) dan Oldest-Old (85 tahun ke atas).

Bersama tokoh HAM Saparinah Sadli, dan psikolog Agustine Dwiputri, Ninuk Widyantoro sudah menerbitkan dua buku mengenai pengalaman pandemi yang menguatkan para lansia tetap beraktivitas, berhubungan dan berkomunikasi kepala sama lain.

“Yang buku mula-mula isinya cuma kegiatan barang apa saja, jadi mereka (lansia) saat itu masih mutakhir belajar zoom, yang tadinya tidak ada, belajar video call , dan mencoba merubah, jika Young Old , masih banyak yang bekerja yang beraktivitas jadi mereka berupaya beradaptasi dengan teknologi baru itu, namun yang Old -Old ( 75-84) tahun itu sebagian tersedia yang begitu ada dengan tidak. Tapi yang Oldest Old itu kebanyakan benar lebih banyak di sendi, ” jelas Ninuk Widyantoro.

Psikolog senior tersebut menambahkan yang paling berat bagi lansia adalah zaman yang mengharuskan mereka harus ada di rumah karena kerentanannya. Hal ini menghilangkan atau mengurangi kesempatan atau kebebasan untuk berinteraksi baik. Padahal interaksi sosial itu penting karena merupakan salah satu kebutuhan paling bersandar bagi manusia.


Petani lansia sarapan di lahan pertanian di kawasan pegunungan Dieng di Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, 15 November 2020. (REUTERS/Willy Kurniawan)

dr. Elizabeth Jane Soepardi, pakar vaksinasi dan imunisasi Indonesia menambahkan selain memperoleh vaksinasi, dukungan keluarga dan tingkatan yang lebih muda istimewa agar lansia bisa tetap berinteraksi sosial selama pandemi.


Pakar imunisasi & vaksinasi, dr. Elizabeth Jane Soepardi (Photo Courtesy)

“Orang resepnya panjang umur adalah teman, jadi pertemukanlah ini, mungkin ada reuni, alumni, buatkan zoom meeting , siap bisa berdiskusi melalui zoom, yang muda-muda membantu supaya lansia punya banyak kegiatan dan kesibukan, ” pesannya.

Sekalipun menurut survei sebuah Institusi Pendidikan di Indonesia, mengecap kesepian lansia di Indonesia tidak separah di negara2 lain, tapi dukungan anggota keluarga para lansia era pandemi tetap menjadi kejadian yang sangat penting.

Pakar psikologi menaikkan jalur-jalur komunikasi yang menguatkan lansia tetap terhubung secara sosial.

“Telepon atau yang lainnya bisa diselenggarakan supaya, dengan jalan apa caranya agar Ibu atau Bapak mereka itu pasti bisa berkomunikasi, diajak jalan-jalan yang tidak usah turun dari mobil misalnya. Kalau di rumah terus-menerus, ya kalau rumahnya halamannya gembung dan luas, itu menyenangkan kalau sempit kan tidak enak, ” jelasnya.


Pemerintah Kabupaten Kudus menggelar vaksinasi bagi Lansia di negeri Pura Terban, Sabtu, 12 Juni. (Foto: Courtesy/Humas Pemprov Jateng)

Dukungan suku dan masyarakat kepada lansia untuk memastikan interaksi sosial, sebagaimana dikatakan dr Jane Soepardi diharapkan akan mewujudkan lansia merasa bahagia, serta bahagia merupakan faktor istimewa yang meningkatkan imunitas. [my/em]