GANDAR akan Adili 2 Militan ISIS Pembunuh Jurnalis James Foley

GANDAR akan Adili 2 Militan ISIS Pembunuh Jurnalis James Foley

James Foley adalah jaminan Barat pertama yang dipenggal kepalanya oleh ISIS.

Memiliki perlakuan yang sangat keras sebab militan ISIS di Suriah – mungkin karena dia memiliki darah laki-laki yang pernah bertugas secara pasukan Amerika di Afghanistan – dia berusia 40 tahun ketika dia dieksekusi pada hari ke-636 penahanannya.

Sekarang dua dari pembunuhnya berada di Amerika, menunggu persidangan.

Alexanda Kotey dan El Shafee Elsheikh, dari London barat, didakwa di pengadilan Virginia minggu ini. Mereka membantah terlibat dalam pembunuhan kepada Foley. Mereka juga menyangkal mengikuti dalam pembunuhan mengerikan para sandera Barat lainnya, termasuk pekerja bantuan Kayla Mueller dan Peter Kassig serta jurnalis Steve Sotloff, semuanya warga Amerika.

Namun, pengakuan itu dibantah oleh para sandera Eropa yang dibebaskan sebab ISIS dengan imbalan uang tebusan.

Mereka mengatakan Kotey dan Elsheikh adalah anggota kuartet militan Inggris yang menempatkan tawanan Barat, terutama Inggris dan Amerika, melalui serangakai penderitaan yang luar biasa, secara rutin memukuli dan menenggelamkan mereka serta melakukan eksekusi dan penyaliban. Keempat penyiksa itu dijuluki “The Beatles” karena mereka memiliki aksen Inggris.

“Anda bisa melihat bekas luka di pergelangan kaki Foley, ” sebutan Jejoen Bontinck, seorang warga Belgi berusia 19 tahun dan telah pindah ke agama Islam. Bontinck, seorang rekrutan jihadis yang bertopang dengan ISIS, berbagi sel penjara dengan Foley pada tahun 2013. “Dia memberi tahu saya bagaimana mereka mengikat kakinya ke sengkang dan kemudian menggantung palang tersebut sehingga dia terbalik dari langit-langit. Lalu mereka meninggalkannya di kian, ” katanya.

Penculikan Foley pada November 2012 berlaku begitu cepat bagi wartawan yang meliput perang di Suriah tersebut. Dia berpengalaman, setelah meliput pemberontakan sebelumnya di Libya yang menimbulkan penggulingan Muammar Gadhafi. Di kian, dia juga ditangkap dan ditahan selama beberapa minggu.

“Itu bagaikan sirene yang memanggil saya ke garis depan, ” katanya kepada para mahasiswa kemudian di Universitas Marquette, di Milwaukee, di mana dia juga sudah belajar.

“Tidak lulus hanya melihatnya dari kejauhan, ” tambahnya.

Foley, dengan menjadi koresponden untuk GlobalPost serta Agence France-Presse (AFP), dan temannya jurnalis foto Inggris John Cantlie, sedang dalam perjalanan kembali ke Turki dari Suriah utara masa mereka ditangkap di jalan suatu kota kecil di utara Aleppo oleh orang-orang bersenjata.

Hidupnya berakhir setelah berbulan-bulan dianiaya dan disiksa pada 19 Agustus 2014, di perbukitan di sepotong selatan kota Raqqa di Suriah, tempat para penculiknya, pemuda yang tidak jauh dari usianya & ironisnya juga penutur asli gaya Inggris, merekam adegan yang menjijikkan. merekam video eksekusi secara ceroboh oleh seorang anggota ISIS dengan berpakaian serba hitam dan bertopeng.

Dalam sebuah gambar yang mengerikan itu, para keras bersumber bahwa mereka masih membekukan jurnalis Amerika lainnya, kontributor akbar Time Steve Sotloff. Mereka memperingatkan Sotloff akan bernasib sama kecuali Presiden Barack Obama membatalkan serangan udara terhadap ISIS.

Dalam beberapa jam setelah pembunuhan putranya, ibu Foley, Diane, mengunggah tulisan di Facebook yang mengutarakan, “Kami tidak pernah sebangga tersebut dengan putra kami Jim, tempat memberikan hidupnya untuk berusaha membuka kepada dunia penderitaan rakyat Suriah. ” [lt/jm]