Festival di Kyrgyztan Rayakan Keragaman Budaya Para Migran

“Kirgistan Tanah Airku!”

Itulah slogan Festival Persahabatan Internasional, acara tahunan yang digelar di kota Bishkek.

Warga asli Kirgistan dan mereka yang berdarah Ukraina, Uzbekistan dan Kabardino-Bulgaria menari bersama di Alun-Alun Lama di pusat ibu kota Kirgistan.

Lagu-lagu nasional, berbagai tarian, kostum berwarna cerah, dan tentunya berbagai hidangan nasional menyambut para pengunjung.

Pria mengenakan pakaian tradisional menghadiri perayaan Hari topi nasional Kirgistan ak-kalpak di Bishkek, Kirgistan, 4 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Vladimir Pirogov)


Pria mengenakan pakaian tradisional menghadiri perayaan Hari topi nasional Kirgistan ak-kalpak di Bishkek, Kirgistan, 4 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Vladimir Pirogov)

Dua puluh sembilan diaspora ikut serta dalam acara itu untuk menunjukkan budaya dan tradisi terbaik mereka.

Masing-masing mendirikan tenda, di mana mereka berbagi kisah hidup dan menceritakan pakaian nasional mereka sambil menjamu para tamu dengan penganan lezat.

Salah satunya Natalya Cheverova, perwakilan dari diaspora Ukraina.

“Penduduk di sini sebelumnya pindah dari Ukraina, dari Ukraina Barat, Timur, mereka bermigrasi, beberapa sempat dipersekusi, beberapa lainnya pindah sendiri atas panggilan hati masing-masing. Sehingga nenek moyang kami, kakek-nenek kami, pindah ke sini, ke tanah Kirgistan. Sekarang, anak-anak saya adalah generasi keenam yang tinggal di Kirgistan dan kami akan terus berada di sini,” katanya kepada Associated Press.

Topi tradisional dipamerkan selama perayaan Hari topi nasional Kirgistan ak-kalpak di Bishkek, Kirgistan, 4 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Vladimir Pirogov)


Topi tradisional dipamerkan selama perayaan Hari topi nasional Kirgistan ak-kalpak di Bishkek, Kirgistan, 4 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Vladimir Pirogov)

Cheverova menghidangkan roti bundar khas Ukraina bagi para pengunjung.

“Roti bundar adalah simbol kegembiraan, kesenangan, dan bahkan pernikahan Ukraina. Di sini, buah viburnum melambangkan rasa manis dan pahit,” katanya.

Lebih dari seratus bangsa tinggal di Kirgistan, di antaranya bangsa Dungans – kelompok Muslim yang memiliki ikatan dengan bangsa Hui dari China.

“Ada banyak perwakilan berbagai kelompok etnis di festival ini, dan agar kita semua akrab dan hidup dalam damai, kita semua mencoba menunjukkan tradisi, budaya dan masakan kita, hidangan apa yang kita miliki. Saya rasa agar bisa hidup damai dan harmonis, festival seperti ini memang diperlukan,” kata Mariyam Davuzova, perwakilan Asosiasi Dungans di Kirgistan, kepada Associated Press.

Festival itu diselenggarakan oleh Kementerian Budaya, Informasi, Olahraga dan Kepemudaan Republik Kirgistan bekerja sama dengan Majelis Rakyat Kirgistan.

Pertama kali diciptakan pada Januari 1994, majelis itu memainkan peran penting dalam mendukung kepentingan nasional rakyat Kirgistan.

Majelis itu bekerja demi perdamaian, kesatuan dan harmoni masyarakat sipil, dan festival itu mencoba mewujudkan hal itu.

“Masing-masing kelompok etnis menunjukkan, mengenalkan kami dengan kerajinannya, tradisinya, budayanya. Acara seperti ini memfasilitasi persatuan rakyat Republik Kirgistan, memperkuat hubungan di antara kelompok etnis yang berbeda. Acara ini juga menjadi wadah yang baik bagi para perwakilan dari semua orang di seantero negeri untuk berkumpul,” kata Iskender Eshimbekov, kepala Departemen Hubungan Antaretnis Kementerian Budaya, Informasi, Olahraga dan Kepemudaan, kepada AP.

Seorang pria mengenakan pakaian tradisional memegang elang emas jinak selama perayaan Hari Nasional Kirgistan topi ak-kalpak di Bishkek, Kirgistan, 4 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Vladimir Pirogov)


Seorang pria mengenakan pakaian tradisional memegang elang emas jinak selama perayaan Hari Nasional Kirgistan topi ak-kalpak di Bishkek, Kirgistan, 4 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Vladimir Pirogov)

Di festival itu juga terdapat bazaar yang memamerkan berbagai kerajinan dan benda seni masing-masing etnis, dengan diiringi pertunjukan musik dan tari di atas panggung.

Hiasan kepala, alat musik kebangsan hingga berbagai cinderamata lain diperdagangkan di bazaar tersebut.

“Di Afghanistan, produk yang paling populer adalah produk bebatuan. Di sini saya juga memegang peta Afghanistan yang terbuat dari batu. Ini… gelas-gelas yang juga terbuat dari batu. Marmer sangat populer di Afghanistan karena kami memiliki gunung marmer,” ujar Mohamed Umar, wakil kepala Diaspora Afghanistan kepada AP.

Wanita mengenakan pakaian tradisional menghadiri perayaan Hari topi nasional Kirgistan ak-kalpak di Bishkek, Kirgistan, 4 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Vladimir Pirogov)


Wanita mengenakan pakaian tradisional menghadiri perayaan Hari topi nasional Kirgistan ak-kalpak di Bishkek, Kirgistan, 4 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Vladimir Pirogov)

Ia menambahkan, bahwa ada lebih dari 1.500 migran Afghanistan yang tinggal di Kirgistan, 600 di antaranya telah menjadi warga negara Kirgistan.

Sementara sisanya tinggal menggunakan visa, izin tinggal, atau memang berstatus sebagai pengungsi asal Afghanistan.

“Hari libur seperti ini memainkan peran penting bagi warga Kirgistan, karena Kirgistan adalah rumah kami bersama, dan kami ingin selalu ada stabilitas dan perdamaian di Kirgistan,” kata Mohamed Umar.

Tahun ini, festival itu didedikasikan bagi perayaan ke-30 tahun ulang tahun kemerdekaan Republik Kirgistan, yang jatuh setiap 31 Agustus. [rd]