Dimediasi AS, Israel-UEA-Bahrain Tandatangani Perjanjian Perdamaian

Dimediasi AS, Israel-UEA-Bahrain Tandatangani Perjanjian Perdamaian

Presiden Donald Trump di Gedung Putih hari Selasa menjadi tuan rumah upacara pengesahan normalisasi hubungan antara Israel & negara-negara Arab: Uni Emirat Arab dan Bahrain.

“Para pemimpin yang berpandangan ke aliran ini akan menandatangani dua suara perdamaian antara Israel dan negara Arab. Ini perdamaian pertama dalam lebih dari 25 tahun. Sepanjang sejarah Israel hanya ada perut perjanjian seperti itu. Kini, kita mencapai dua perjanjian dalam satu bulan, ” ujar Trump.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Menteri Luar Negeri Asosiasi Emirat Arab Abdullah bin Zayed dan Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid al Zayani menandatangani perjanjian yang disebut “Abraham Accords” itu di Halaman Selatan Gedung Putih. Benjamin Netanyahu mengutarakan, “Perdamaian ini pada akhirnya mau meluas, mencakup negara-negara Arab lain, dan pada akhirnya akan mengakhiri konflik Arab-Israel, untuk selamanya. ”

Kesepakatan Israel-Uni Emirat Arab (UEA) dicapai pada 13 Agustus lalu. Bahrain mengumumkan Jumat lalu bahwa mereka juga bakal secara resmi mengakui negara Yahudi itu. Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid al Zayani menyebut perjanjian normalisasi sebagai “langkah penting pertama”.

“Kini menjadi kewajiban mendesak kita buat bekerja secara aktif demi mewujudkan perdamaian dan keamanan yang langgeng yang layak dirasakan rakyat kita. Solusi dua negara yang sepantasnya, komprehensif, dan langgeng bagi perselisihan Palestina-Israel akan menjadi landasan, fondasi perdamaian semacam itu, ” introduksi al Zayani.

Meskipun tidak menyebut Palestina dalam pertimbangan pada upacara penandatanganan itu, Trump mengakui bahwa perjanjian normalisasi antara Israel dan negara-negara Arab ialah bagian dari upaya diplomatik dengan lebih luas untuk menekan Palestina agar merundingkan kesepakatan damai.

Sementara itu, puluhan demonstran pro-Palestina berkumpul di depan Gedung Putih, memrotes penandatanganan itu.

“Ini adalah tikaman bagi rakyat Palestina, ” cetus Zeina Hutchison, kepala koalisi asosiasi pro-Palestina, penyelenggara demonstrasi.

Senan Shaq dari Dewan Palestina Amerika mengatakan Trump “tidak berhak menyungguhkan solusi untuk memberikan tanah Palestina kepada Israel. ”

Sebagai bagian dari perjanjian normalisasi dengan Uni Emirat Arab, Israel setuju menangguhkan rencana aneksasi di Tepi Barat yang diduduki, meskipun Perdana Menteri Netanyahu mengatakan rancangan itu nantinya tetap akan dikerjakan.

Di Yerusalem, alam Amerika, Israel, Uni Emirat Arab, dan Bahrain diproyeksikan pada tembok yang mengelilingi Kota Tua Yerusalem, menyambut penandatanganan perjanjian itu.

Di Gaza, puluhan masyarakat Palestina hari Selasa mengecam kesepakatan itu. Demonstran mengusung plakat dan meneriakkan tentangan mereka atas normalisasi antara kedua negara Arab itu dan Israel.

Ismail Radwan, pejabat Hamas yang menimbrung dalam protes itu mengatakan, hari ini menandai “hari kemarahan untuk rakyat Palestina. ”

Media-media berita melaporkan dua roket ditembakkan dari Jalur Gaza yang dikuasai Hamas ke Israel. Dua orang di Israel dilaporkan terluka. [ka/jm]