DFW Serukan Pemerintah Minta Bantuan Lembaga Internasional untuk Selamatkan 13 ABK di Somalia

dfw-serukan-pemerintah-minta-bantuan-lembaga-internasional-untuk-selamatkan-13-abk-di-somalia-2

Tiga belas warga Indonesia menjadi anak buah kapal (ABK) ikan China telah terdampar di perairan Somalia sekitar delapan bulan. Selain itu satu ABK berinisial FM meninggal, sementara yg berinisial RS hilang. Lima belas ABK asal Philippines itu bekerja di lima kapal ikan milik perusahaan yang sama, yakni Liao Dong Yu.

Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia Moh Abdi Suhufan menjelaskan sebanyak 13 warga Indonesia itu harus segera dipulangkan karena sudah merasa tertekan.

Abdi menambahkan pemerintah Indonesia sudah coba untuk mengevakuasi mereka namun belum berhasil karena lokasi mereka berada di arah kapal ikan China yg letaknya terisolir atau jauh dari ibu kota Mogadishu.

Mereka diisolasi dalam kapal di perairan Bandar Baila. Upaya evakuasi ini dilakukan melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di ibu kota Nairobi, Kenya.


Kapal penangkap ikan China terlihat ditambatkan di lepas pantai Nouadhibou, Mauritania, 14 April 2018. (REUTERS/Sylvain Cherkaoui)

Dikarenakan itu, Abdi meminta pemerintah Indonesia untuk menggandeng lembaga internasional, seperti IOM (Organisasi Migrasi Internasional) untuk membantu proses evakuasi ke-13 warga Indonesia dari perairan Somalia tersebut.

Dia mengatakan DFW Indonesia telah menjalin kontak dengan sejumlah lembaga internasional, seperti IOM (Organisasi Migrasi Internasional), ILO (Organisasi Buruh Internasional), lalu UNODC (Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Narkotik dan Kejahatan).

“Kami sarankan pemerintah melakukan koordinasi atau pembicaraan dengan lembaga-lembaga kemanusiaan internasional dan meminta jaringan lembaga-lembaga internasional menemukan dan mengupayakan pemulangan mereka, misalkan dengan IOM, inch kata Abdi.

Abdi menambahkan ke-13 orang itu dalam keadaan stres dan pernah terpikir untuk lari dari kapal dengan cara terjun ke laut. Kalau hal tersebut sampai dilakukan, mereka akan terkena masalah lain dikarenakan dokumen mereka ditahan dengan pihak kapal. Menurut Abdi, ke-13 ABK itu telah habis kontrak kerjanya yang berlaku selama Desember 2019 hingga Desember 2020.

Mereka pernah mencoba menghubungi PT RCA, perusahaan yang memberangkatkan mereka untuk bekerja di kapal ikan Cina namun agensi tersebut sudah tutup karena terbelit persoalan hukum. Sedangkan perusahaan kapal ikan Cina yg mempekerjakan mereka menolak memulangkan mereka ke Indonesia.

Lebih lanjut Abdi menjelaskan para awak kapal perikanan tersebut menginformasikan jika agensi kapal Tiongkok bekerjasama dengan pihak tertentu di Somalia untuk bekerjasama menjaga mereka agar tetap terkungkung pada lokasi yang terisolasi.

Kemlu Akui Perusahaan Kapal Ikan China Tidak Kooperatif

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah mengakui Liao Dong Yu, perusahaan kapal ikan Cina yang mempekerjakan ke-13 warga Indonesia, tersebut memang kurang kooperatif.

Dia mencontohkan ada sejumlah persoalan membekap ke-13 ABK dari Indonesia tersebut termasuk mereka dipindahkan dari satu kapal ke kapal ikan lainnya sehingga data manifesnya tidak sesuai dengan yang sebelumnya.

Mengenai saran buat menggandeng lembaga internasional buat membantu proses evakuasi ke-13 ABK asal Indonesia tersebut, menurut Faizasyah, belum mengetahui detailnya.


Teuku Faizasyah. (Foto: Kementerian Luar Negeri)

“Tidak selalu di dalam penyelesaian satu masalah, anda bisa berhubungan langsung oleh pihak negara setempat / otoritas di mana peristiwa itu terjadi. Namun wujud badan-badan PBB memiliki hubungan yang lebih baik dibandingkan kita atau dibandingkan negara lain dan ini yang menyebabkan kerjasama kita dengan organisasi internasional, seperti IOM ini, berjalan sangat benar, ” ujar Faizasyah.

Faizasyah mengaku belum mengetahui apakah Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri sudah mulai meminta bantuan lembaga internasional, seperti IOM, untuk membantu pemulangan 13 ABK dasar Indonesia di Somalia itu.

Faizasyah menambahkan Kementerian Luar Negeri terus berkoordinasi dengan KBRI di Nairobi dan Konsul kehormatan Indonesia di Somalia di dalam upaya pemulangan ke-13 ABK tersebut ke tanah air flow. Tapi dia mengaku belum mengetahui sejauh mana kemajuan dari proses itu. [fw/em]