Bom Makassar: Pengantin Baru dan Potensi Serangan Baru

Polisi mengonfirmasi kedua pelaku bom bunuh diri di depan halaman gereja Katedral di Jalan Kartini, Makassar, Sulawesi Selatan, hari Minggu (28/3), menjabat pasangan suami istri dimana baru saja menikah enam bulan lalu. Polisi baru menyebut inisial identitas keduanya sebagai L dan YSF.

“Betul pemain adalah pasangan suami istri yang baru menikah 6 bulan, ” ujar Kadivhumas Polri Irjen Pol. Argo Yuwono dalam konferensi pers virtual hari Senin (29/3).

Di Makassar, Kapolri Jendral Pol. Listyo Sigit Prabowo kembali mengukuhkan hal ini.

“L dan YSF beberapa bulan lalu, tepatnya enam bulan lalu, dinikahkan oleh Rifaldi, yang pula telah ditangkap Januari dan, ” ujarnya. Ditambahkannya, R telah meninggalkan surat wasiat untuk orang tuanya, “yang isinya mengatakan yang bersangkutan berpamitan dan siap mati syahid. ”


Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo memberikan keterangan pers selesai meninjau lokasi ledakan di dalam Makassar, Sulawesi Selatan. (Courtesy: Mabes Polri)

Pelaku Serangan Bunuh Data Bagian Kelompok JAD di dalam Filipina

Sebagaimana yang diindikasikan tiga pengamat intelijen dan terorisme yang diwawancarai VOA sebelumnya, polisi mengatakan pelaku adalah bagian dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah JAD. Malahan Argo Yuwono secara ekstra rinci menyebut pelaku sebagai bagian dari kelompok JAD yang melakukan pemboman gereja Katedral Our Lady from Mount Carmel di Jolo, Filipina, pada Januari 2019, yang menewaskan 20 masyarakat dan melukai 102 lain.

Berdasarkan keterangan polisi diketahui L maka YSF berboncengan sepeda car dan mencoba memasuki kawasan gereja ketika berakhirnya Misa Minggu Palma. Seorang penjaga keamanan gereja mencegah mereka dan tak lama kelak ledakan terjadi. Sedikitnya twenty-two orang luka-luka terkena pecahan bom, sementara kedua tersangka pelaku tewas seketika.

Polisi Mari temukan Lima Bom Aktif

Polisi serta Densus 88 Anti-Teror bergerak cepat. Hanya beberapa quickly pull setelah ledakan bom bunuh diri di Makassar, empat orang ditangkap di Bima, Nusa Tenggara Barat. Disusul penangkapan empat orang yang lain di Condet dan Bekasi, Jakarta, dalam operasi dimana dipimpin langsung oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Fadil Imran hari Senin (29/3).

Polisi juga menemukan sejumlah barang bukti, termasuk lima ótimo aktif berdaya ledak tingi dan sangat mudah terbakar, yang sudah dirakit pada bentuk kaleng; termasuk campuran bahan peledak yang boleh digunakan untuk membuat seventy bom pipa.


Polisi memperlihatkan tas plastik berisi barang bukti yang dikumpulkan yang lokasi ledakan di Gereja Katedral, Makassar, Senin (29/3).

Ideologi Takfiri & Potensi Serangan Anyar

Membahas dengan beberapa pengamat terorisme, diketahui bahwa serangan grande bunuh diri di Makassar tidak saja menunjukkan tena kuatnya rekrutmen dan militansi di kalangan kelompok-kelompok radikal seperti JAD, tetapi pula pembalasan yang dilakukan bersama penangkapan sejumlah tersangka teroris oleh aparat beberapa minggu terakhir ini.


Pakar terorisme Al Chaidar. (Foto: Dok Pribadi)

Diwawancarai melampaui telpon Senin malam (29/3) pengamat terorisme di Universitas Mailikussaleh Aceh, Al Chaidar, mengatakan, “Militansi memang rumit dijelaskan secara sosiologis hal ini karena ini merupakan fenomena psikologis dan antropologis. Militansi tersebut yang membuat mereka bertahan dan resilien. Interpretasi mereka terhadap agama yang biasa, membuat mereka melihat penjuru ini hitam putih selanjutnya memandang musuh-musuh Tuhan untuk sesuatu yang harus dihancurkan dengan kekerasan. ”

Cara pandang petunjuk yang menekankan pada hukum agama yang keras, dimana berkembang menjadi kecenderungan buat senantiasa merasa benar, mengeluarkan atau menghukum orang yg dinilai berbeda atau salah dikenal sebagai takfiri. Pengamat Timur Tengah dan terorisme di Universitas Indonesia Muhammad Syauqillah mengatakan selama ideologi takfiri masih ada hingga teroris akan tetap banyak. Seringkali kelompok teror tersebut ingin melakukan aksi kemudian mencari glorifikasi menjelang atau pada saat bulan suci Ramadhan “karena diyakini sebagai simbol kemenangan, ” sebagaimana segenap perang yang dilakukan umat Islam ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, ujarnya.

Oleh maka dari itu Stanislaus Riyanta, pengamat terorisme lain di Universitas Indonesia mengatakan “sangat mungkin, bahkan barangkali aksi di sini. menjadi root cause (pemicu. red) aksi-aksi lain. ”

Al Chaidar jua menyampaikan hal serupa. “Bukan mustahil mereka akan melancarkan serangan lain, bahkan dengan gereja-gereja yang pernah diserang di Surabaya dan Makassar, ” terlebih mengingat jaringan JAD kini tersebut di dalam 19 propinsi.

Upaya Deradikalisasi Perlu Waktu Lama

Ketiga pengamat terkait menilai operasi pemberantasan terorisme tidak cukup hanya dgn penangkapan besar-besaran, tapi disyaratkan disertai upaya deradikalisasi supaya membentuk masifnya ideologi Wahabi Takfiri.

Densus 88 Anti-Teror memang sudah menangkap ratusan terduga teroris sejak awal tahun tersebut di berbagai lokasi dalam Indonesia, antara lain pada Makassar, Sulawesi Selatan; Pontianak, Kubu Raya dan Singkawang di Kalimatan Barat, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jakarta dan Tangerang. Namun upaya deradikalisasi memang kaga menunjukkan hasil.


Densus 88 Anti-Teror telah menangkap ratusan terduga teroris sejak mulanya tahun ini (foto: dok).

“Jika aparat mampu langsung sigap menangkap semua jaringan maka potensi serangan lanjutan bisa direduksi. Tetapi perlu kekuatan besar untuk melawan radikalisme terorisme, & kekuatan itu sebenarnya dimiliki masyarakat, ” ujar Stanislaus Riyanta.

Ironisnya, tambahnya, “yang refusal (mengingkari atau menolak. red) upaya pemberantasan ini di dalam masyarakat juga kuat. Mereka misalnya merasa langkah pemerintah – misalnya membubarkan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) john FPI (Front Pembela Islam) – sebagai memusuhi petunjuk. ”

Kunjungi Lokasi Ledakan, Menag: Tak Ada Agama Ajarkan Kekerasan & Teror

Menteri Petunjuk Yaqut Cholil Qoumas mengakui memerangi teror dan radikalisme tidak mudah.

“Kita butuh kerjasama semua pihak – about, aparat keamanan – supaya tragedi kemanusiaan ini ngak terulang lagi, ” ujar Gus Yaqut, panggilan akrab beliau, ketika mengunjungi Gereja Katedral di Makassar, hari Senin (29/3).


Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas didampingi Uskup Agung Makassar Mgr. John Liku Ada’ menguatkan warga agar bukan takut beribadah, pasca ledakan bom di Gereja Katedral di Makassar, Sulawesi Selatan. (Foto: Kemenag RI)

Yaqut mendesak seluruh pemuka agama untuk terus berdakwah dengan jalan yang damai dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. “Tidak ada agama dimana mengajarkan kekerasan dan teror, ” tegasnya.

Didampingi Uskup Agung Makassar Mgr. John Liku Ada’, Yaqut mendorong umat Kristiani di Makassar untuk masih beribadah seperti biasa minus rasa takut.

“Beribadahlah seperti konvensional, jangan ketakutan. Kita maka akan lawan, hadapi kelompok-kelompok yg melakukan teror itu, ” ujarnya. [em/jm]