Band Remaja Perempuan Gipsi Serbia Gunakan Musik untuk Berdayakan Perempuan

band-remaja-perempuan-gipsi-serbia-gunakan-musik-untuk-berdayakan-perempuan-3

Sebuah band remaja rani di Serbia yang dibangun pada tahun 2014 memakai musik mereka untuk memberi dukungan bagi hak-hak perempuan. Lagu-lagu mereka menggambarkan mengenai “perempuan yang terbelenggu” di pelecehan yang telah berlangsung selama beberapa generasi ataupun remaja perempuan yang dipaksa menikah oleh ayah mereka.

Band taruna perempuan “Pretty Loud” menyarankan para perempuan untuk mengaduk-aduk cinta, melawan dan membela hak mereka agar seimbang dengan laki-laki.

Melalui lagu-lagunya, band itu menyokong pemberdayaan perempuan di dalam komunitas mereka, menantang konvensi yang sudah mengakar & didominasi oleh laki-laki selama berabad-abad.


Zlata Ristic (27, tengah), Elma Dalipi (14, kiri), Silvia Sinani (24, 2 kiri), Dijana Ferhatovic (18, nomor 3 lantaran kiri), Zivka Ferhatovic (20, nomor 2 dari kanan), dan Selma Dalipi (14), anggota band Pretty Loud, berlatih di studio musik di Beograd, Serbia. (AP)

Band yang dibangun pada tahun 2014 tersebut secara simbolis memberikan suara yang lebih keras bagi gadis-gadis Gipsi Serbia, memerosokkan pendidikan dan menjauhkan diri dari adat menikah dini yang sudah mengakar.

“Pretty Loud” menjelma populer dan menarik menjawab internasional saat tampil tahun lalu di the Women of the Year Kegiatan di London.

Silvia Sinani, salah seorang anggota band itu mengutarakan, “Kami ingin menghentikan pengamalan pernikahan dini. Kami mau remaja perempuan sendiri, tidak orang tua mereka, dengan memutuskan apakah mereka ingin menikah atau tidak. Kami ingin setiap perempuan mempunyai hak untuk didengar, untuk memiliki impian dan menyentuh impian itu, dan memiliki kesetaraan. ”


Zlata Ristic (tengah), Elma Dalipi (kiri), Dijana Ferhatovic (nomor besar dari kiri), Zivka Ferhatovic (kanan) dan Selma Dalipi (nomor dua dari kanan), anggota band Pretty Loud, berdiri di depan suatu studio musik di Beograd, Serbia, Rabu, 16 Juni 2021. (AP)

Sinani mengatakan, ide untuk mendirikan band yang semua anggotanya adalah perempuan itu tercetus pada saat lokakarya pendidikan serta seni untuk kaum Gipsi, yang diselenggarakan oleh yayasan Grubb (Gypsy Roma Urban Balkan Beats).

Ia menambahkan, semua rani yang menjadi anggota band itu, awalnya menjadi penari latar sebuah band muda laki-laki. Mereka akhirnya memutuskan untuk mendirikan band sendiri.

Yayasan Grubb memberi nama band itu “Pretty Loud” karena mereka tahu bahwa dalam konvensi kaum Gipsi, perempuan tidak dapat bersuara terlalu berlelah-lelah.

Dengan mengumpulkan rap dan irama tradisional, Gipsi band itu menargetkan generasi yang lebih muda, khususnya remaja perempuan dengan belum menentukan pilihan tumbuh mereka.

Pasangan kembar yang berusia 14 tahun juga menjadi bagian band tersebut.

Lagu-lagu mereka membahas kedudukan perempuan dan berupaya untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka.

Upaya itu penting untuk komunitas di mana pengerjaan pernikahan dini sudah meluas. Sebuah studi UNICEF dengan dipublikasikan tahun lalu memperlihatkan bahwa lebih dari sepertiga anak perempuan Gipsi berumur 15-19 tahun yang tinggal di Serbia, sudah menikah. Sebanyak 16 persen dalam antaranya sudah menikah sebelum berusia 15 tahun.

Otoritas Serbia yang khawatir, membentuk sebuah bayaran negara untuk menghentikan tren tersebut.

Zlata Ristic, 27 tahun, lengah seorang anggota band tersebut, melahirkan seorang bayi laki-laki saat ia berusia 16 tahun. “Saya termasuk karakter yang melakukan pernikahan pra. Tidak ada yang memaksa saya, namun saya menyadari, saya seharusnya tidak melakukannya. ”


Dari kiri: Silvia Sinani, Dijana Ferhatovic, Zivka Ferhatovic, Elma Dalipi, Selma Dalipi dan Zlata Ristic, anggota band Pretty Loud, berjalan di sepanjang hidup di sekitar tempat tinggal mereka di Beograd, Serbia, Rabu, 16 Juni 2021. (AP)

Kini sebagai orang tua tunggal, Ristic mengatakan, ia ingin rani lain yang berada pada situasi serupa, menyadari kalau kehidupan mereka tidak sudah setelah mereka memiliki anak. Mereka masih dapat mengambil cita-cita mereka.

“Hadiah terbesar bagi beta adalah ketika beberapa remaja perempuan berusia 14 tahun menulis kepada saya & mengatakan, mereka ingin menjadi seperti kami. Dan berkat kami, mereka kini bersekolah, nilai sekolah mereka serupa membaik, ” imbuhnya.

Di antara publik etnik yang kurang berharta di Serbia dan menggembung di Eropa, orang Gipsi kebanyakan tinggal di permukiman yang terpisah dari kelompok, menghadapi kemiskinan, pengangguran & prasangka.

Para-para aktivis telah memperingatkan bahwa pandemi COVID-19 semakin memicu isolasi sosial kelompok yang terpinggirkan ini dan meningkatkan kemiskinan mereka.

Penutupan wilayah akibat virus corona telah membuat sekolah-sekolah tidak dapat berjalan secara lancar sehingga anak-anak Gipsi semakin sulit untuk langgeng bersekolah. [lj/uh]