Ahli: Pandemi Gairahkan Penciptaan Teknologi Belajar Daring di Masa Depan

Ahli: Pandemi Gairahkan Penciptaan Teknologi Belajar Daring di Masa Depan

Sementara sebagaian besar orang tua stres secara sistem pembelajaran secara daring akhir-akhir ini, beberapa ahli malah menyatakan hal itu akan menjadi peristiwa biasa di masa depan. Apalagi sistem pembelajaran tersebut dinilai positif.

Banyak siswa yang memulai tahun ajaran segar lewat internet. Hal ini membuat kesulitan bagi orang tua untuk menemukan cara agar anak-anak mereka dapat belajar di depan layar komputer. Namun, satu diantara CEO kongsi yang bergerak dalam bisnis teknologi mallar bersemangat dan berharap pandemi akan menggairahkan penciptaan teknologi dengan lebih baik untuk menyelenggarakan pendidikan.

“Ini momen penting dalam sejarah, karena semasa berkarir, saya berjuang untuk memperkenalkan lebih banyak teknologi ke di dalam ruang kelas, tetapi banyak penentangnya, ” kata Nicole Lazzaro, CEO XEO Design.


Lavinia Tomassini, 14, menggunakan iPad-nya untuk mengikuti kelas bahasa Prancis online. (Foto: Reuters)

Lazzaro sangat menyenangi games, ia adalah seorang perancang games yang berpengalaman, dan mengembangkan games yang hidup. Ia direkrut oleh bisnis pengembang games, kaya Electronic Arts, serta studio film dan TV seperti Lucas Art, Cartoon Network dan Nickelodeon.

“Seratus persen dari siswa-siswa di dunia kini menjadi siswa online . Penggunaan games dalam lingkungan kaya itu membuat reality games berpeluang betul besar, ” kata Nicole Lazzaro.

Salah satu games yang dikembangkan Lazzaro adalah “Follow the White Rabbit” atau Mengikuti Jejak Kelinci Putih yang membawa para pemain ke dalam sebuah perjalanan virtual keliling dunia.

“Kita bisa pergi menjelajahi berbagai tempat, jadi misalnya kita belajar Aljabar, itu kan berasal dari Timur Tengah. Kita belajar tentang kertas yang berasal dari China, dan kita sungguh-sungguh melihat bagaimana dunia ini berkembang, budaya-budaya dunia berkembang, dan disini diperlihatkan betapa besarnya saling ketergantungan di antara kita semua, ” papar Nicole Lazzaro.

Lazzaro menjelaskan anak-anak jauh lebih mudah mengingat informasi yang mereka peroleh dari reality games, karena peristiwa itu benar-benar mereka alami tunggal dan bukan disuapi seperti melalui kuliah misalnya. Sudah tentu tak semua anak-anak memiliki komputer ataupun telepon pintar, apalagi headset untuk reality games yang bisa mencapai $ 200 atau lebih.

“Sediakan internet berkecepatan tinggi buat para siswa, upayakan peralatan serta koneksi untuk mereka, serta sumbang mereka dukungan. Kalau hal itu terselenggara, maka sebuah daftar teknologi yang panjang, seperti reality games , menurut saya merupakan alat pembelajaran yang baik sekali, ” ujar Chistine Greenhow, seorang professor ilmu pendidikan dari Michigan State University.

“Kita perlu menyediakan perangkat keras dengan harga dengan murah, perlu mendidik para instruktur supaya mereka paham penggunaannya. Lalu kita perlu berikan pengalaman itu kepada para siswa sehingga mereka tahu bagaimana reality games itu dioperasikan, ” kata Nicole Lazzaro.

Ini merupakan sebuah cita-cita yang diharapkan akan dirangkul oleh para orang tua yang saat ini masih khawatir dengan masa pendahuluan pendidikan anak-anak mereka. [ew/jm]