Afghanistan ‘Jatuh’, Kurdi Khawatir AS Keluar dari Irak & Suriah

afghanistan-ac280c298jatuhac280c299-kurdi-khawatir-as-keluar-dari-irak-dan-suriah-1

Minoritas Kurdi pada Irak dan Suriah memandang kehadiran pasukan Amerika istimewa untuk melindungi mereka. Tahu tayangan warga Afghanistan yang putus asa memegangi pesawat Amerika saat lepas tumpuan, timbul pertanyaan serius mau masa depan mereka.

“Akankah skenario Afghanistan terulang di Irak? ” adalah pokok berita istimewa dari dua program TV teratas wilayah Kurdistan Irak: Rudaw dan NRT, Selasa. Mereka merujuk pengambilalihan lekas Taliban atas Afghanistan pekan lalu ketika pasukan Amerika menarik diri dari negeri itu.

Kurdi di Irak mampu mendapatkan wilayah otonomi setelah Konflik Teluk 1991, ketika Amerika dan sekutu Baratnya membuat zona larangan terbang kemanusiaan di Irak utara. Kala kelompok ISIS mendapat menggubris pada 2014, pejuang Kurdi menjadi sekutu utama Amerika di lapangan. Itu menguatkan Kurdi Suriah membentuk tadbir dan memproklamirkan diri pada timur laut Suriah.


Seorang anggota pasukan Taliban (kiri) duduk di atas organ lapis baja di asing Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, 16 Agustus 2021. (REUTERS/Stringer)

Dalam wawancara dengan VOA, Sheikh Jaafar Sheikh Mustafa, wakil presiden wilayah Kurdistan untuk urusan keamanan, mau meyakinkan warga Kurdi bahwa Irak tidak mungkin bernasib sama dengan Afghanistan sebab “perbedaan besar” antara kedua negara.

“Menurut kami, pasukan koalisi tak akan keluar dari Irak. Tetapi jika itu berlaku, komposisi Irak kini berbeda. Kami memiliki posisi pemimpin republik. Kami memiliki bagian politik dan memiliki anggota Parlemen dan menteri-menteri dalam Irak, ” katanya.

Posisi teratas negeri di Irak terbagi menjadi faksi-faksi utama di negara itu. Kurdi memegang status kepresidenan, orang Syiah menjabat perdana menteri, dan orang Sunni menjabat ketua Parlemen. Bila pasukan Amerika ditarik, menurut Mustafa, pembagian adikara dan pengakuan pemerintah Irak terhadap pasukan peshmerga Kurdi membuat konfrontasi pada periode depan antara kedua pemerintah tidak mungkin terjadi.

“Irak memiliki tentara bersenjata dan keamanan pada kementerian Pertahanan dan Dalam Negeri. Dan di provinsi Kurdistan, kami memiliki gerombolan peshmerga yang kuat dengan, dianggap semua orang, sanggup menghadapi kekuatan paling kejam di dunia, yaitu ISIS, ” katanya. [ka/ab]