Varian Delta Merajalela di Asia

Kota tuan rumah Olimpiade Tokyo, Thailand dan Malaysia, mengagendakan rekor kasus infeksi COVID-19 pada Sabtu (31/7), sebagian besar kasus disebabkan oleh varian Delta yang sangat menular.

Lonjakan kasus infeksi juga berlaku di Sydney, Australia. Polisi menutup kawasan pusat usaha untuk mencegah protes terhadap penerapan l ockdown yang akan berlangsung hingga akhir Agustus.

Polisi mengatup stasiun kereta api, melarang taksi menurunkan penumpang dari pusat kota dan menumpukan 1. 000 petugas buat mendirikan pos pemeriksaan. Pemerintah New South Wales mengadukan adanya 210 infeksi hangat akibat varian Delta pada Sydney dan sekitarnya.

Pemerintah metropolitan Tokyo mengumumkan rekor jumlah infeksi yang mencapai 4. 058 dalam 24 jam belakang, melampaui angka 4. 000 untuk pertama kalinya. Pemangku Olimpiade melaporkan 21 peristiwa COVID-19 baru terkait secara Olimpiade, sehingga total menjadi 241 sejak 1 Juli.

Sedangkan Malaysia, salah satu episentrum virus tersebut, melaporkan rekor terbaru dengan 17. 786 kasus virus corona pada Sabtu (31/7).

Bertambah dari 100 orang berkumpul di pusat ibu praja Kuala Lumpur, menyatakan ketidakpuasan dengan penanganan pandemi oleh pemerintah dan menyerukan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin buat mundur.

Thailand mencatatkan rekor harian terbaru di angka 18. 912, sehingga total akumulasi kasus COVID-19 di negara itu menjadi 597. 287. Thailand juga melaporkan 178 kematian baru, menjadikan total mair mencapai 4. 857.

Pemerintah mengatakan varian Delta menyumbang lebih dibanding 60% kasus di negara itu dan 80% urusan di Ibu Kota Bangkok. [ah]

KeefektifanVaksin Sinovac Susut Setelah 6 Bulan, Apakah Pemerintah Mau Berikan Booster?

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmidzi mengungkapkan sampai sejauh ini pemerintah belum berencana memberikan booster atau vaksin COVID-19 dosis ketiga kepada klub luas. Booster tersebut, katanya, saat ini hanya hendak diberikan kepada tenaga medis.

Pertanyaan melanda booster ini muncul menyusul temuan studi atau studi terbaru yang dilakukan dalam China yang menunjukkan bahwa antibodi yang dihasilkan oleh vaksin Sinovac akan memudar enam bulan kemudian setelah dosis kedua diberikan. Pemerintah, kata Nadia, masih menunggu jurnal ilmiah dari penelitian tersebut secara jelas, serta juga menunggu rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait pemberian booster kepada masyarakat luas.


Juru kata Vaksinasi COVID-19, Siti Nadia Tarmidzi.

“Jadi kita tunggu saja sampai tersedia publikasi yang jelas, dengan kedua kita tunggu rekomendasi WHO lebih lanjut menerjang bagaimana pelaksanaan vaksinasi. Belum ada rekomendasi booster (kepada masyarakat luas) sampai era ini, ” ungkap Nadia kepada VOA, di Jakarta, Jumat (30/7).

Meski begitu, ia mengakui, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Padjajaran, (Unpad) efikasi i vaksin Sinovac menurun seiring munculnya bermacam-macam varian atau mutasi hangat dari virus corona. Tetapi, ia menggarisbawahi efikasi tersebut masih memadai dalam menanggulangi pandemi COVID-19.

Sampai detik ini, katanya, WHO menekankan untuk menyelesaikan target vaksinasi COVID-19 dalam masing-masing negara untuk menekan angka keparahan dan moralitas akibat terpapar virus COVID-19.

“Tampaknya rekomendasi WHO saat ini selesaikan target vaksinasi itu dengan utama. Jadi semakin banyak orang yang mendapatkan jumlah 1 dan 2, semakin baik. Apalagi kalau vaksinnya terbatas jumlahnya. Dan perlu diingat produksi vaksin ijmal kan hanya mampu menutup kebutuhan 50 persen. Serta ini saja sudah terbukti untuk mengendalikan pandemi, ” jelasnya.


Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Resi Adisasmito. (Foto: VOA).

Secara terpisah, Juru Kata Satuan Tugas (Satgas) Pengerjaan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan bahwa sampai saat ini berdasarkan penelitian dengan sudah ada, belum diketahui berapa ambang batas level antibodi yang cukup protektif dan dapat mencegah sepadan penyakit.

“Antibodi hanyalah satu dari komponen sistem kekebalan tubuh dengan kompleks, seperti sel T dan sel memori (sel B). Secara teori, kekuatan tubuh yang ditimbulkan bagus karena vaksinasi maupun infeksi akan berkurang seiring berjalannya waktu, ” ujar Wiku kepada VOA.

Meski begitu, kata Wiku, pemerintah akan selalu menyelenggarakan strategi vaksinasi yang unggul bagi tenaga kesehatan dan juga masyarakat umum berdasarkan sains agar strategi itu dan strategi lainnya sanggup efektif dalam mengendalikan pandemi.

“Tentunya kecendekiaan vaksinasi yang sudah serta akan dilaksanakan, berlandaskan di hasil studi ilmiah, serta hasil evaluasi dan penyerasian dengan kementerian/lembaga terkait, ” paparnya.

Pakar: Booster Vaksin COVID-19 Dibutuhkan

Ahli Epidemiologi dari Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo mengatakan apabila hasil studi tersebut benar, maka booster atau vaksin COVID-19 dosis ketiga perlu diberikan kepada masyarakat luas. Pemberian booster tersebut, katanya, bisa dikerjakan setelah seluruh target vaksinasi terpenuhi. Namun ia menghargai bahwa program vaksinasi dengan dijalankan oleh pemerintah zaman ini cenderung lambat jadi kekebalan komunitas atau herd immunity masih jauh dari jangkauan


Epidemiolog Universitas Airlangga Windhu Purnomo. (Foto: VOA)

“Masih jauh, real yang sudah divaksinasi sejak Januari, Februari mungkin sekarang sudah turun banyak harga antibodinya. Sementara yang sudah lama divaksinnya sudah turun antibodinya, padahal masih penuh yang belum. Berarti membentuk kita tidak akan sudah mencapai herd immunity , ini dengan kita khawatirkan. Jadi artinya vaksinasi tidak bisa menjelma andalan di Indonesia untuk mengendalikan pandemi, karena kita tidak akan pernah mampu mencapai herd immunity , ” ujar Windhu kepada VOA.

Meski begitu, dia tetap memperingatkan pemerintah buat terus menggenjot laju vaksinasi COVID-19 dengan disertai desain “3T” dan pembatasan pergeseran masyarakat.

Widhu menjelaskan kadar antibodi dengan dihasilkan semua vaksin dengan ada menurun seiring berjalannya waktu. Namun itu, semua bergantung kepada berapa efikasi yang dihasilkan oleh vaksin tersebut. Semakin tinggi efikasinya semakin lama antibodinya bertahan di dalam tubuh.


Peserta vaksinasi COVID-19 menerima dosis Sinovac dalam rencana vaksinasi yang digelar Kodim 0506_ Tangerang dan Mall @ Alam Sutera (Courtesy Mall @ Alam Sutera).

“Hampir semua vaksin itu tidak bertahan lama. Tapi ada vaksin dengan bertahan lama seperti vaksin campak. Itu seumur tumbuh, jadi orang kalau telah divaksinasi sekali, anti bodinya bertahan seumur hidup. Tapi tidak banyak vaksin dengan seperti itu. Hampir seluruh (efikasi) vaksin lambat laun akan turun, cuma ada yang cepat turun, ada yang lebih lambat, ” katanya.

Dia mengatakan, pemerintah perlu menyelidiki hasil studi vaksin Sinovac tersebut untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan oleh pemerintah dalam upaya pengendalian pandemi COVID-19.

“Cuma logikanya pasti mendarat. Yang harus kita ketahui itu dan berapa lama bertahannya, dan turunnya berapa besar, dan yang kita khawatirkan turunnya itu kan di bawah batas kegiatan protektifnya. Kalau turun sedang di atas fungsi protektifnya ya tidak apa-apa, ” pungkasnya. [gi/ab]

Pembelaan di ICU Bisa Sadarkan Warga Yang Belum Divaksinasi

Di tengah peluncuran vaksin COVID-19 secara nasional di AS, banyak juga warga yang menunda atau makin menolak divaksinasi.

Dan sebagian dari mereka, akhirnya menyesal karena telah menundanya. “Kami hanya berpendapat kami masih muda dan cukup sehat, dan kalau kami terjangkit, kondisinya tidak akan terlalu buruk. Namun ternyata buruk. ”

Sedikit di luar kota Little Rock, Arkansas, Tate Ezzi dan istrinya, Christine, sedang menunggu kemunculan anak keenam mereka di Mei lalu, sewaktu keduanya jatuh sakit dengan isyarat COVID-19 yang parah.

Di rumah lara University of Arkansas for Medical Sciences (UAMS) pada Little Rock, Christine kudu menggunakan ventilator dan kemudian Extracorporeal Membrane Oxygenation ataupun ECMO, mesin yang memompakan darah di luar awak pasien ke jantung dan paru-paru artifisial.

Ezzi mengutarakan Christine akhirnya keguguran. “Kami tahu bahwa janinnya lahir mati. Yang kami terang adalah kadar oksigennya runtuh terlalu rendah pada sejenis waktu. ”

Sementara itu Tate tiba merasakan sendiri gejala COVID-19 dan ia menghabiskan waktu delapan atau sembilan keadaan di rumah sakit. “Dan saya beritahu mereka, apapun pengobatannya, dapat kalian berikan untuk saya, apapun. Kalian harus membuat saya bertambah baik, karena saya tahu Christine tidak dalam peristiwa baik ketika itu. ”

CEO UAMS Stephen Mette mengatakan kepada Reuters terlalu banyak masyarakat Arkansas yang menunda vaksinasi karena berbagai alasan. Sayangnya, yang kerap terjadi ialah mereka baru berubah pikiran setelah harus berobat ke rumah sakit.

“Ada penolakan cukup gembung untuk mendapatkan vaksinasi pada kalangan masyarakat. Dan hamba harus katakan bahwa semua pasien yang dirawat di rumah sakit di sini, setelah mereka pulih, jika mereka belum divaksinasi, oleh karena itu mereka memberitahu kami kalau mereka benar-benar berubah budi dan akan divaksinasi begitu keluar dari rumah melempem, ” jelasnya.


Pasien COVID-19 Brian Parisi (53), dari Orange County, dirawat oleh staf medis di ICU Rumah Sakit Providence St Joseph di Orange, California, AS, 23 Juli 2021. (REUTERS/Omar Younis)

Tetap saja, tidak semua karakter menerimanya. “Saya mulai menemui kesulitan bernapas dan ukuran oksigen saya mulai mendarat. Jadi saya pikir, bertambah baik saya ke sendi sakit. Dan mereka pun membawa saya ke tempat gawat darurat dan lalu mengevaluasi saya, lalu membawa saya ke unit ini. ”

Brian Parisi menghabiskan waktu bertambah dari sepekan di ICU di Providence St. Joseph di Orange, California, berjuang melawan virus corona. Lelaki berusia 53 tahun dengan belum divaksinasi itu mengutarakan kepada Reuters bahwa dia tidak percaya vaksin mau membantu.

“Kalau mengingatnya lagi, saya sejujurnya tidak tahu apakah vaksin akan membuat perbedaan sebab ada reaksi negatif dengan dapat berasal dari vaksin, ” komentarnya.


Dr. Serta Ponticiello (43), dan Dr. Gabriel Gomez (40), mengintubasi pasien COVID-19 di bagian ICU COVID-19 Rumah Kecil Misi Providence di Mission Viejo, California, AS, 8 Januari 2021. (REUTERS)

Dokter Jooby Babu, ahli perawatan kritis paru, tak sependapat. “Cukup jelas kalau orang yang divaksinasi tak akan mendapat gejala penyakit dan jauh lebih kecil kemungkinannya dirawat karena COVID. ”

Setelah menghabiskan sebagian besar kamar Mei dan Juni dalam rumah sakit, Christine Ezzi masih lemah, tetapi kondisinya membaik setiap hari.

Tate Ezzi mengutarakan ia kini memiliki perintah untuk sesama warga Arkansas mengenai vaksin. “Saya ingin orang-orang dapat mengambil kesimpulan sendiri, tentu saja. Tetapi saya benar-benar ingin memberitahu kisah saya karena jika ini terjadi pada saya, ini dapat terjadi pada siapapun. ” [uh/ab]

Gedung Putih Pertimbangkan Wajib Vaksin untuk Pegawai FederalÂ

Gedung Putih sedang mempertimbangkan secara kuat untuk mewajibkan para-para pegawai federal agar membuktikan bukti bahwa mereka telah mendapat vaksinasi COVID-19 ataupun kalau tidak, mengikuti ulangan reguler dan mengenakan masker, suatu potensi perubahan tinggi dalam kebijakan yang mencerminkan kekhawatiran mengenai penyebaran varian Delta virus corona yang lebih mudah menular.

Kemungkinan kegiatan vaksinasi bagi pegawai federal, terlepas dari tingkat penularan di daerah mereka, adalah salah satu opsi dengan sedang dipertimbangkan oleh tadbir presiden Joe Biden, kata satu orang yang pelajaran rencana itu dan berbahasa dengan syarat anonim melanda pembahasan yang belum diumumkan kepada publik itu. Gedung Putih diperkirakan akan mencanangkan keputusan akhirnya setelah menuntaskan peninjauan kebijakan pada minggu ini.

Menurut analisis yang dikerjakan Kantor Manajemen dan Anggaran federal, pada tahun 2020 terhadap lebih dari 4, 2 juta pegawai federal di seluruh Amerika, termasuk yang bekerja di tentara.


Presiden Joe Biden mengunjungi pusat vaksin COVID-19 di Walter Reed National Military Medical Center, Jumat, 29 Januari 2021, pada Bethesda, Md. (AP Photo/Alex Brandon)

Biden hari Selasa (27/7) menyatakan bahwa meluaskan kewajiban itu pada seluruh pegawai federal “sedang dipertimbangkan, ” tetapi ia tidak memberikan rincian bertambah jauh. Departemen Urusan Veteran hari Senin menjadi badan federal pertama yang memandang vaksinasi bagi seluruh aparat kesehatannya.

Kewajiban yang lebih luas yang sedang dipertimbangkan itu akan menjadi pergeseran paling signifikan oleh tadbir Biden pekan ini, tatkala Gedung Putih menghadapi lonjakan kasus dan rawat inap terkait virus corona pada seluruh penjuru Amerika, dengan digerakkan oleh varian Delta dan infeksi terobosan di kalangan warga Amerika yang telah divaksinasi.

Hari Selasa, Induk Pengendalian dan Pencegahan Keburukan AS (CDC) membalikkan pedoman mengenai penggunaan masker serta menyatakan semua orang Amerika yang tinggal di daerah-daerah dengan tingkat penularan virus corona yang tinggi ataupun besar harus mengenakan masker dalam ruangan, terlepas dibanding status vaksinasi mereka. & dengan itu pula, kedok kembali dikenakan di Gedung Putih.

Di Selasa sore (27/7), semasa data terbaru CDC mendapati bahwa Washington DC bertemu tingkat penularan yang tumbuh, staf Gedung Putih diminta untuk mengenakan masker pada dalam ruangan mulai Rabu (28/7). Para awak pers juga diminta mengikuti kiprah tersebut, dan staf serta reporter yang masih berada di Gedung Putih mengenakan masker mereka.

Seorang ajudan Wakil Pemimpin Kamala Harris membagi-bagikan masker kepada reporter yang meliput kegiatannya pada hari tersebut, dan meminta mereka buat mengenakan masker sebelum mengikuti pertemuan Harris dengan pimpinan warga pribumi Amerika melanggar hak pilih.

Masker juga akan wajib dikenakan lagi di gedung DPR AS. Di Kongres, dengan jumlah anggota yang jauh lebih sedikit, kedok direkomendasikan tetapi tidak diwajibkan di majelis itu & di tempat-tempat dalam ruang lainnya. [uh/ab]

Olimpiade Tanpa Penonton Asing, Bisnis-bisnis di Tokyo Terpukul

Cuma ada sejumlah pengunjung terlihat berlalu lalang di Asakusa, sebuah lokasi wisata tenar di Tokyo, yang tadinya diperkirakan akan dibanjiri ribuan penonton dan peserta Olimpiade.

“Seharusnya ada banyak turis dan orang asing di kawasan Asakusa selama Olimpiade Tokyo, ” kata Shuichi Inoue, pemilik toko yang menjajakan manisan Jepang. “Namun kenyataannya daerah ini sepi & kami kecewa. ”

Inoue merupakan satu dari ratusan pemilik bisnis di Asakusa serta wilayah-wilayah lain di Tokyo yang merasakan dampak membatalkan pembatasan-pembatasan terkait protokol kesehatan COVID-19 di Jepang.

Toko suvenir milik Yoshihisa Omae dulunya terletak di lokasi utama turis dekat Ometesando, distrik perbelanjaan kelas atas yang sering diserbu turis domestik dan asing yang modis dari berbagai penjuru dunia.


Suasana di sekitar Kaminarimon, gerbang masuk istimewa pertama Kuil Sensoji pada Tokyo, Selasa, 13 Juli 2021, (AP)

Karena pandemi, ia memindahkan tokonya ke Hiro-o, daerah perumahan di daerah Shibuya dengan populer bagi ekspatriat.

Omae tak hanya kehilangan kesempatan buat menonton upacara pembukaan bergandengan putrinya, tetapi bisnisnya jauh berkurang karena kebijakan Olimpiade tanpa penonton.

“Penghasilan berkurang, apalagi mungkin hanya 10 obat jerih dari penghasilan dulu. praktis tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ekspektasi awal kami, ” katanya.


Boneka mainan dari keluarga Funassyi, maskot tidak resmi dengan mewakili kota Funabashi, prefektur Chiba di toko tanda mata bertema Funassyi di sebuah mal di Funabashi, pinggiran kota Tokyo, 13 Juli 2021. (AFP)

Tetapi Sayuri Shirai, profesor ekonomi di Universitas Keio, mengatakan bahwa penyelenggaraan Olimpiade tahun ini memberi lebih banyak manfaat ketimbang membatalkannya.

“Pandemi COVID-19 dimulai dari tahun semrawut sehingga keuntungan ekonomi dengan kita harapkan tahun awut-awutan ini tidak terjadi, ” kata Shirai “Tapi, menyelenggarakan Olimpiade meningkatkan beberapa kegiatan ekonomi tambahan. Jadi dipadankan dengan membatalkannya, ini sedang lebih baik. ”

Untuk mengatasi krisis yang diperparah oleh pandemi dan kefrustrasian karena tidak menghasilkan uang selama Olimpiade, beberapa pengusaha mungil Jepang menjalankan bisnis itu untuk sekadar bertahan tumbuh.


Sebuah jaring diletakkan di sekitar toko merchandise Tokyo 2020 di Bandara Internasional Narit, dekat Tokyo, 2 April 2020. (AP)

Yume Shimazaki memiliki sebuah apartemen di Tokyo. Ia tadinya berencana bakal menyewakannya ke turis aneh selama Olimpiade. Tetapi fakta itu tidak terwujud sehingga ia kini menyewakan apartemennya untuk orang yang perlu melakukan isolasi mandiri dengan harga sewa jauh bertambah rendah.

Olimpiade berlangsung hingga 8 Agustus, untuk kemudian diikuti oleh Paralimpiade, tetapi perjuangan yang dihadapi para pengusaha bisnis kecil setempat terus berlanjut. [ab/uh]

Menkes Ungkap Penyebab Kematian Penderita COVID-19 Isoman

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin merasa prihatin dengan banyaknya pasien COVID-19 yang meninggal saat mengabulkan isolasi mandiri di rumahnya masing-masing. Ia akui, selain penuhnya rumah sakit, pasal lainnya adalah masih banyak masyarakat yang masih menganggap terpapar virus corona sebagai aib, sehingga tidak bersetuju berobat ke fasilitas kesehatan.

“Rupanya kalau orang yang sakit pada banyak daerah, itu masih dilihat sebagai orang ternoda, terhukum, orang yang tidak baik. Jadi kasihan orang-orang ini tidak mau di tes, tidak mau melapor, karena dia ada kewajiban sosialnya. Sakit COVID-19 tidak aib, justru kalau tersedia yang sakit harus kita bantu, jangan kemudian dalam aib-kan, nanti justru itu tidak mau lapor serta akhirnya terlambat masuk RS, dan itu adalah pasal kematian yang paling luhur, ” ungkap Budi pada telekonferensi pers di Jakarta, Senin (26/7).


Menkes Tabiat Gunadi Sadikin dalam Telekonferensi pers usai Ratas dalam Jakarta, Senin (26/7) mengatakan masih banyak masyarakat dengan menganggap COVID-19 Sebagai Salah (Foto: VOA).

Oleh karena itu dari itu ia meminta kepada seluruh lapisan masyarakat untuk membantu sesama seandainya ada yang terpapar virus corona agar segera ditangani dengan cepat dan tepat sehingga angka kematian serta tingkat keparahan akibat COVID-19 bisa ditekan semaksimal agak-agak.

Selain pikulan sosial dan penuhnya sendi sakit, salah satu pengantara angka kematian yang agung akibat COVID-19 adalah keterlambatan penanganan. Banyak pasien yang dibawa ke rumah lara dalam keadaan saturasi oksigen dalam darah sangat sedikit. Budi berpesan kepada klub, apabila terpapar virus corona harus selalu memeriksa saturasi oksigen dalam darah dengan alat yang bernama oximeter. Jika saturasi dalam pembawaan sudah di bawah 94 persen, pasien COVID-19 tersebut harus segera di bawa di rumah sakit atau tempat isolasi terpusat.

“Yang penting jangan tunggu sampai turun 70-80 persen, karena merasa segar. Kadang-kadang orang hanya sejumlah saya hanya batuk kecil saya tidak mau ke RS. Yang banyak wafat karena terlambat masuk ke RS. Penyakit ini kalau di- treat lebih dini segar InsyaAllah. Di seluruh negeri dari 100 orang dengan sakit yang masuk RS hanya 20 persen, dengan wafat mungkin sekitar satu, 7 persen. Lebih sedikit dari TBC atau HIV. Tapi harus dirawat dengan tepat dan cepat, ” jelasnya.


Seorang paramedis mendorong tangki oksigen di tempat gawat darurat sebuah vila sakit yang penuh sesak di tengah kasus COVID-19, di Surabaya, Jawa Timur, Jumat, 9 Juli 2021. (AP)

Dalam sisi lain, Budi membaca bahwa kapasitas tempat tidur rumah sakit secara nasional mencapai 430 ribu. Sejak jumlah tersebut yang sudah terisi oleh pasien COVID-19 adalah sebanyak 82 ribu. Penurunan keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) ini baru terjadi di Jakarta dan Jawa Barat. Daerah-daerah lain, semacam Jogjakarta dan Bali, sedang belum menurun.

Kesalahan Strategi Penanganan Pandemi COVID-19

Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan nilai kematian yang cukup agung di masyarakat akibat COVID-19 merupakan dampak jangka lama dari strategi 3T (testing, tracing, treatment) yang tidak tepat. Menurutnya, dari pokok pandemi sampai detik itu testing yang dilakukan pada masyarakat masih cukup nista, apalagi data yang dilaporkan oleh pemerintah masih banyak yang tidak tercatat. Berarti angka kematian bisa lebih tinggi dari yang dilaporkan pemerintah saat ini.

Iia berharap negeri bisa lebih memperkuat muslihat 3T di masyarakat, dan tidak henti-hentinya mengedukasi klub untuk menerapkan protokol kesehatan tubuh serta mengajak mereja buat menjalani vaksinasi COVID-19.

“Semua penyakit menular seperti itu. Ketika bubar di hulu, abai pada mendeteksi, sekarang kita telah menerima dampaknya, kematian ganti berganti, karena ini bukan suatu proses sehari dua hari, proses mingguan, setidaknya tiga mingguan. Ini artinya yang harus dilakukan tetap dari pemerintah, merubah desain testing- nya, tidak berbayar misalnya, lebih aktif, tidak musti PCR, rapid test antigen saja. Selain itu, tentu meningkatkan literasi pada warga supaya memang mau pada tes. Dan komunikasi dengan harus ditingkatkan selain sebetulnya strategi testing dan tracingnya harus lebih massif serta agresif, ” ungkap Dicky kepada VOA.

Kebutuhan Obat Terapi COVID-19 Meningkat Pintar

Budi juga mengungkapkan seiring dengan ledakan kasus COVID-19, kebutuhan obat pun meningkat sebanyak 12 kali lipat sejak satu Juni 2021. Guna menutup ketersediaan obat, pemerintah kendati bekerja sama dengan ikatan pengusaha farmasi untuk memperbesar kapasitas produksi dan menolong distribusinya ke seluruh apotik di Indonesia dan selalu melakukan impor.

“Tapi memang dibutuhkan waktu antara 4-6 minggu, agar kapasitas produksi obat di dalam negeri kita bisa memenuhi kebutuhan peningkatan obat-obatan sebesar 12 kali lipat tersebut. Mudah-mudahan di awal Agustus nanti beberapa obat dengan sering dicari masyarakat misalnya Azithromycin, Oseltamivir, dan Favipiravir itu sudah bisa merembes ke pasar secara signifikan, ” jelasnya.


Seorang teknisi laboratorium memperlihatkan kotak obat “Remdesivir” di Eva Pharma Facility, Kairo, Mesir 25 Juni 2020. (REUTERS/Amr Abdallah Dalsh)

Selain itu, obat lain yang akan diimpor oleh pemerintah adalah Remdesivir, Actemra, dan Gammara. Ia pun meminta kepada masyarakat untuk tidak menimbun obat-obatan untuk terapi COVID-19 tersebut. Pasalnya, penimbunan obat akan berakibat kurangnya stok di pasaran.

“Kami minta tolong, biarkan obat ini dibeli oleh orang-orang yang memerlukan, bukan dibeli sebagai simpanan. Kasihan teman-teman yang memerlukan, ” tuturnya.

Prioritas Vaksinasi COVID-19

Budi mengakui laju vaksinasi di tanah air, sedikit melambat. Hal ini dikarenakan keterbatasan jumlah stok vaksin yang tersedia. Sampai Juni, katanya pemerintah mempunyai stok vaksin sebanyak 70 juta. Dari jumlah tersebut sebanyak 63 juta sudah disuntikan kepada masyarakat, yang mana 44, 9 juta masyarakat menerima suntikan pertama, & 18, 3 juta telah menerima dosis lengkap.


Sekitar 3. 500 pekerja & warga di Kawasan Berikat Nusantara di Cakung, Jakarta, divaksinasi tanggal 1 Juli lalu ketika pemerintah memacu vaksinasi warga. (Courtesy: BNPB)

“Kenapa tidak mampu lebih cepat? Karena dasar jumlah vaksinnya cuma begitu. Kita di Juli bakal datang hampir 30 juta dosis, dan Insya Tuhan Agustus 45 juta ukuran, Tapi angka ini setiap hari berubah, Sampai simpulan Juli akan datang sekitar 8 juta vaksin Sinovac, dan 4 juta vaksin AstraZeneca. Di Agustus kita akan kedatangan sekitar 45 juta vaksin terdiri daripada Sinovac, AstraZeneca, Moderna & Pfizer, ” kata Akhlak.

Ke depan, katanya, pemerintah akan mendahulukan vaksinasi berbasis risiko kaya mendistribusikan vaksin corona ke daerah yang mempunyai nilai kasus aktif COVID-19 dengan cukup tinggi yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Bali.

“Kita juga akan mendahulukan orang yang risiko mulia wafat, yakni lansia dan yang mempunyai komorbid, itu yang harus kita utamakan. Bukan berarti kita tak mau suntikan ke lainnya, tapi kalau kita lihat yang wafat di RS, itu adalah orang-orang kaya ini. Kita lindungi mereka dahulu, ” tuturnya. [gi/ab]

Pemberdayaan Perempuan Chad: ‘Lingui’ Perbolehkan Kesan di Festival Cannes

Mahamet-Saleh Haroun memberi kredit kepada para perempuan Chad yang terpinggirkan melalui hidup barunya berjudul “Lingui, The Sacred Bonds. ”

Film itu mengenai Amina, yang diperankan oleh Achouackh Abakar Souleymane, seorang ibu tunggal yang dikucilkan masyarakat karena tidak menikah.

Keberadaan Amina yang rentan semakin bermasalah ketika putrinya yang sedang remaja, Maria, diperankan sebab Rihane Khalil Alio, hamil. Ia seakan ditakdirkan buat mengikuti jejak ibunya, kecuali jika ia mengambil efek untuk aborsi secara ilegal.

“Status sebagai ibu tunggal dan semua ini, terjadi di mana-mana di dunia. Di Chad perbedaannya, ketika seorang rani tidak menikah dan berisi, itu dilarang. Itu makin tidak bisa dibicarakan seolah-olah yang dialami Amina. Ia ditolak dalam masyarakat. Bila itu terjadi, hal yang sama akan berlaku pada Kamu, ” kata Souleymane.


Pemutaran film “Lingui” dalam perlombaan. Sutradara Mahamat-Saleh Haroun & pemeran Achouackh Abakar dan Rihane Khalil Alio secara pose tamu. (Foto: REUTERS/Eric Gaillard)

Pemeran Amina itu menguraikan situasi sesuai dihadapi anak perempuan Amina yang juga hamil.

“Anak hawa Amina menyadari apa yang akan ia hadapi. Kesimpulan untuk menggugurkan kandungan, awalnya diambil oleh putri Amina. Namun ibu tunggal itu menyadari, bagaimana kehidupan putrinya nanti, ” katanya.

Souleymane senang dalam sosok Amina. Ia digambarkan sebagai perempuan yang setia dalam mengambil keputusan & melakukannya.

Setia sekaligus sutradara film, Haroun berencana menayangkan film tersebut kepada kaum perempuan pada Chad. Ia berharap dapat mengadakan diskusi dengan para penonton, sekaligus untuk memberdayakan mereka.

“Saya berkeinginan, bersama Achouackh dan Rihane, pemutaran film tersebut hanya bagi kaum perempuan. Menurut saya, mereka hendak merasa seperti ada kemandirian untuk membicarakan hal-hal karakter yang mendalam, jika kami hadir di sana, ” kata Haroun.

Haroun berpandangan secara tradisional sejumlah perempuan tidak terbiasa berbicara masalah pribadi mereka secara mendalam, jika ia tidak ada di kian.

“Pertama-tama kita akan ungkapkan kata-kata dengan gerak isyarat, sambil menetapkan ke Achouackh. Ia terang bagaimana berbicara dengan mereka. Kami hanya akan menyusun beberapa pemutaran bagi rani terlebih dahulu. ”


Pemotretan untuk film “Lingui” di dalam kompetisi – Cannes, Prancis, 9 Juli 2021. Sutradara Mahamat-Saleh Haroun berpose. (Foto: REUTERS/Gonzalo Fuentes)

Menjelma salah satu dari segelintir pemeran perempuan di Chad, Souleymane juga membuka berkepanjangan dalam karirnya sendiri.

“Lingui, The Sacred Bonds” mendapat sambutan rapat di Festival Film Cannes, yang ditayangkan dalam perlombaan tersebut.

Setelah bioskop ditutup secara besar terkait pandemi COVID-19, hasil terhadap film yang dia sutradarai sendiri, membuat Haroun serasa melayang di tempat “awan kecil”.

Festival Film Cannes berlangsung hingga 17 Juli 2021. [mg/ka]

Mahfud MD: Kontroversi Pembatasan Kesibukan Terjadi di Berbagai Negeri

Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan kontroversi pemisahan kegiatan masyarakat pada periode pandemi seperti di Indonesia juga terjadi di bermacam-macam negara. Hasil studi Departemen Luar Negeri menyebut perlawanan terhadap pembatasan kegiatan pada negara berkembang terjadi sebab dinilai mengganggu perekonomian. Sedangkan di negara maju memiliki penolakan karena dinilai menghilangkan kebebasan masyarakat.

Terkait hal tersebut, dia menegaskan pemerintah memahami kerusuhan masyarakat dalam menghadapi pandemi yang tidak menentu. Keributan tersebut terutama takut beku karena COVID-19 dan gamang mati karena kegiatan ekonominya tidak berjalan. Namun Mahfud meyakinkan pemerintah terus mendaftarkan perkembangan di masyarakat terpaut hal tersebut.


Menko Polhukam Mahfud MD saat menyerahkan keterangan pers di Jakarta, Sabtu (24/7/2021), dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Sasmito Madrim)

“Ketakutan itu kudu dihadapi dengan kerja sebanding di antara elemen-elemen bangsa. Tokoh-tokoh pemerintah, tokoh masyarakat, aktivis kampus, akademisi, tokoh adat, ” jelas Mahfud pada konferensi pers daring, Sabtu (24/7/2021).

Buat membahas masalah-masalah terkait virus corona, Mahfud menggelar rapat dengan sembilan kementerian dan lembaga membahas situasi baik, politik dan ekonomi terpaut penanganan virus corona di dalam Sabtu (24/7/2021). Turut tampil pada kesempatan tersebut jarang lain Menteri Dalam Daerah Tito Karnavian, Menteri Sungguh Negeri Retno Marsudi, Pemimpin TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

Mahfud mengklaim pemerintah mendengarkan cita-cita masyarakat dalam mengambil kesimpulan dalam penanganan pandemi corona, termasuk soal vaksinasi COVID-19 yang juga menjadi pro-kontra di masyarakat.


Suasana jalanan di Jakarta tampak sunyi bilamana penerapan PPKM Gawat yang diberlakukan 3-20 Juli 2021 (foto: Reuters).

“Pemerintah mengetahui bahwa sekelompok orang memiliki keinginan untuk memanfaatkan situasi, tadi tersedia kelompok yang murni dan ada kelompok yang tidak murni yang masalahnya hanya ingin menentang pemerintah sekadar, ” tambah Mahfud.

Pengamat kebijakan terbuka Agus Pambagio menilai negeri terlambat dalam merespons pandemi corona pada awal pandemi. Kata dia, hal itu diperparah dengan aturan dengan digunakan pemerintah dalam menjalankan pandemi. Ia beralasan kaidah yang sebagian besar dipakai adalah berbentuk surat edaran yang tidak memiliki gaya hukum dalam sistem perundang-undangan.

“Saya lengah karena ada puluhan tulisan edaran, itu tidak tersedia gunanya. karena secara kaidah tidak bisa mengatur. Jika perintah surat edaran tidak dikerjakan, tidak ada konsekuensi hukumnya, ” ujar Agus Pambagio kepada VOA , Sabtu (24/7/2021).

Agus memasukkan pemerintah semestinya membuat sistem pemerintah atau peraturan presiden yang memiliki kekuatan hukum seperti diatur dalam sistem perundang-undangan.

Dia juga mengkritisi penegakan sanksi yang lemah bagi orang yang melanggar aturan pada penanganan pandemi. Akibatnya situasi itu berpotensi membuat orang tidak disiplin sehingga mampu mengganggu penanganan pandemi. [sm/ah]

Vaksin Sinopharm Kemungkinan Beri Lansia Perlindungan Rendah

Sebuah studi baru menunjukkan, vaksin Sinopharm menawarkan perlindungan yang buruk dari COVID-19 di kalangan lansia. Temuan ini menimbulkan keprihatinan mengingat puluhan negara yang telah memberikan vaksin buatan perusahaan China itu kepada populasi mereka yang paling rentan.

Studi itu berlangsung di Hungaria, dan melibatkan sampel darah 450 orang yang diambil setidaknya dua minggu setelah dosis Sinopharm kedua diberikan.

Hasilnya, 90 persen dari mereka yang berusia di bawah 50 tahun mengembangkan antibodi pelindung setelah disuntik vaksin Sinopharm. Tetapi persentase itu menurun seiring bertambahnya usia. Yang memprihatinkan, 50 persen dari mereka yang berusia di atas 80 tahun tidak mengembangkan antibodi sama sekali setelah menerima vaksin tersebut.


Seorang staf medis mengambil darah untuk tes antibodi di Budapest, Kamis, 8 Juli 2021. (AP)

Menurut Associated Press, studi yang dilakukan dua peneliti Hungaria ini telah dipublikasikan secara online pekan ini tetapi belum dievaluasi oleh para ilmuwan lain. Namun, tiga pakar yang tidak terlibat dalam penelitian itu mengatakan, mereka tidak memiliki masalah dengan metodologi studi itu.

Jin Dong-yan, ahli virologi Universitas Hong Kong yang tidak berafiliasi dengan penelitian ini, menyatakan prihatin terhadap vaksin yang dikembangkan oleh Institut Produk Biologi Beijing ini. “Ini sangat, sangat mengkhawatirkan bahwa orang-orang ini, yang berisiko tinggi, memiliki respons antibodi yang buruk,” katanya.

Tingkat antibodi bukanlah ukuran langsung mengenai seberapa terlindunginya seseorang dari COVID-19, tetapi ada semakin banyak bukti bahwa antibodi adalah faktor pengukur perlindungan yang bisa dipercaya. Apalagi, kata seorang pakar, pilihan alat tes dapat membatasi keakuratan pengukuran.


Seorang staf medis menunjukkan darah yang diambil dari seorang pasien lansia untuk tes antibodi di Budapest, Kamis, 8 Juli 2021. (AP)

Namun, temuan penelitian ini memiliki nilai dan merupakan upaya ilmiah publik pertama untuk menganalisis efek vaksin Sinopharm pada lansia, kata Wang Chenguang, mantan dosen di Peking Union Medical College dan pakar imunologi.

Komisi Kesehatan Nasional China menolak mengomentari penelitian tersebut, dengan mengatakan itu hanya akan menanggapi penelitian yang dilakukan pemerintah atau lembaga penelitian besar.

Ini bukan pertama kalinya muncul pertanyaan tentang kemanjuran vaksin Sinopharm, yang diberi lampu hijau oleh Organisasi Kesehatan Dunia pada Mei dan digunakan di lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia.

Sinopharm sendiri digunakan di Indonesia untuk program vaksinasi gotong royong sejak 18 Mei 2021. Menurut keterangan yang disampaikan PT Kimia Farma – yang memproduksinya di Indonesia – kepada media, sudah lebih dari 70.000 dosis vaksin Sinopharm yang didistribusikan ke perusahaan yang telah mendaftar untuk program vaksinasi gotong-royong.

Perusahaan farmasi itu juga telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan produsen utamanya di China untuk memproduksi sebanyak 7,5 juta dosis untuk kebutuhan dalam negeri dengan pengiriman bahan baku secara bertahap.

Seorang juru bicara WHO mengatakan, Rabu (21/7), para pakar organisasi itu “mengetahui penelitian ini dan terus memantau semua bukti yang tersedia.”

Sejumlah penasihat WHO sebetulnya mengajukan pertanyaan beberapa bulan yang lalu mengenai apakah vaksin itu memberikan perlindungan pada orang berusia 60 tahun ke atas. Tetapi, mengingat sudah ada persetujuan dari WHO, seorang ahlinya mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk berpikir bahwa vaksin itu tidak bermanfaat bagi lansia.


Botol Vaksin COVID-19 Sinopharm. (Foto: ilustrasi).

Sinopharm adalah salah satu dari dua vaksin serupa yang dikembangkan oleh Institut Produk Biologi Beijing, anak perusahaan China National Biotec Group (CNBG). Penelitian perusahaan milik negara ini menunjukkan bahwa hampir semua peserta dalam uji klinis tahap akhir berusia di bawah 60 tahun dan para penelitinya sendiri mengatakan tidak ada cukup bukti untuk mengatakan apakah vaksin tersebut bermanfaat bagi orang tua. Secara keseluruhan, vaksin ini memiliki tingkat keefektifan 78 persen.

Di Hungaria, kekhawatiran tentang Sinopharm mendorong banyak orang melakukan tes untuk mengetahui keadaan antibodi di tubuh mereka. Pihak berwenang ibu kota Budapest bahkan menawarkan pengujian gratis kepada lansia sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan tekanan pada pemerintah agar melakukan survei sendiri yang lebih luas dan memberikan booster kepada mereka yang membutuhkannya.

Setelah awalnya menolak seruan untuk mengatasi masalah kemanjuran — termasuk dari penulis studi antibodi Balazs Sarkadi dan Tamas Ferenci — Perdana Menteri Viktor Orban, pekan lalu, akhirnya memberi warganya pilihan untuk mendapat suntikan vaksin ketiga.

Namun, kantornya menegaskan bahwa semua vaksin yang disahkan oleh Hungaria efektif.


Tes antibodi di Budapest, Kamis, 8 Juli 2021. (AP)

Uni Emirat Arab dan Bahrain mengumumkan Mei lalu bahwa mereka juga akan menawarkan dosis ketiga Sinopharm di tengah kekhawatiran tentang respons antibodi yang tidak mencukupi. Bahrain merekomendasikan agar orang berusia di atas 50 tahun dan beberapa kelompok rentan lainnya menerima vaksin Pfizer sebagai booster terlepas dari apakah mereka mendapat vaksin Sinopharm pada awalnya.

CNBG sendiri mengatakan, dosis ketiga vaksinnya bukanlah bagian dari pedoman klinis perusahaan itu.

Tidak jelas berapa dosis vaksin Sinopharm yang telah diekspor. Secara keseluruhan, China mengekspor 500 juta dosis vaksin pada paruh pertama tahun ini, dan produsen utamanya adalah salah satu dari dua pembuat vaksin COVID utama negara itu. Pembuat vaksin COVID utama lainnya di negara itu adalah Sinovac, sebuah perusahaan swasta.


Vietnam menerima sumbangan 500.000 dosis vaksin Sinopharm dari China, 20 Juni 2021. (Facebook/Konsul Jendral HCMC)

Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi baru-baru ini memesan 550 juta dosis dari kedua perusahaan tersebut untuk program COVAX yang didukung oleh PBB.

Vaksin Sinopharm juga digunakan secara luas di China, termasuk pada lansia. Komisi Kesehatan Nasional negara itu mengatakan pada bulan April bahwa vaksin itu memberikan perlindungan, meskipun mengakui bahwa tahap awal uji klinis vaksin itu mendorong pembentukan kadar antibodi yang lebih rendah pada mereka yang berusia 60 tahun ke atas. [ab/uh]

Remaja Hawaii Daur Ulang Untuk Bantu Mahasiswa Membayar SPP

Pada awalnya, Genshu Price melakukan daur ulang untuk kepentingannya sendiri. Ayah Price pernah mengatakan itu merupakan cara yang baik dalam menabung untuk membayar uang kuliahnya kelak.

Pelajar SMP asal Hau’ula, Hawaii, ini mengatakan, “Ini gagasan ayah saya untuk mengumpulkan kaleng-kaleng dan botol minuman guna membayar uang kuliah saya nantinya. Lalu saya pikir, saya dapat membuatnya menjadi sesuatu yang lebih besar dan bahkan dapat membantu para pelajar Hawaii lainnya. ”

Maka remaja ini pun memutuskan untuk meluncurkan prakarsa yang disebut “Bottles4College”.


Genshu Price (kanan) dan relawan lainnya di S. W. King Intermediate School di Kāne’ohe, Hawaii, menyortir kaleng dan botol untuk “Bottles4College”, 18 Maret 2021. (Foto: Maria Price/Bottles4College via AP)

Price menjelaskan, “Kami ingin menciptakan suatu sistem di mana setidaknya, setiap tahun, kami dapat mengirim satu atau dua anak-anak dengan beasiswa penuh ke perguruan tinggi. Jadi itu akan memerlukan dua hingga empat juta kaleng dan botol minuman. ”

Dengan bantuan orang tuanya, dan kadang-kadang bantuan beberapa sukarelawan, Price mengumpulkan ratusan materi untuk didaur ulang setiap pekan.

Mereka kemudian memisah-misah dan memilih-milah sebelum mengantarkan hasilnya ke pusat daur ulang setempat. Di sana ia menerima uang dari hasil penukaran barang-barang yang didaur ulang itu.


Genshu Price berdiri di belakang truk setelah memuatnya dengan kaleng dan botol daur ulang dari Kualoa Ranch di Kāne’ohe, Hawaii, untuk penggalangan dana “Bottles4College”, Mei 2021. (Maria PRice/ Bottles4College via AP)

Pendiri prakarsa “Bottles4College” itu mengatakan, “Ini benar-benar mengenai harapan. Seperti yang kami katakan sebelumnya, biaya hidup di Hawaii sangat tinggi, COVID bahkan menambah kesulitan itu. Dan sebagai seorang anak Hawaii, saya memahami, maksud saya sebagai anak-anak yang juga tinggal di Hawaii, saya memahami bahwa perlu banyak uang untuk hidup dan tinggal di rumah juga makan setiap hari. Saya ingin memberi jalan bagi para siswa yang mungkin tidak mampu, atau tidak dapat kuliah di perguruan tinggi dengan biaya sendiri. ”

Sementara itu, sang ibu, Maria Price mengemukakan, “Ada begitu banyak hal yang ia pelajari dari pengalaman ini dan karena itu kami percaya bahwa ini adalah bagian dari pendidikannya.

Melalui banyak tantangan dan kemunduran karena COVID, keluarganya melanjutkan pekerjaan ini dengan harapan baru untuk meluaskan kegiatan tersebut.


Tempat sampah yang dilukis oleh siswa untuk penggalangan dana Genshu Price, Bottles4College, ditempatkan di kantor di S. W. Sekolah Menengah Raja di Kāne’ohe, Hawaii, 10 Oktober 2020. (Foto: AFP/Maria Price)

Price menjelaskannya sebagai berikut, “Salah satu target kami adalah menyediakan tempat-tempat pengumpulan materi daur ulang publik di setiap sekolah negeri di Hawaii. Sekarang ini kami telah memiliki tempat di dua sekolah negeri di Hawaii, dan kami berharap untuk meluaskannya. Dengan cara itu, kita akan memiliki tempat pengumpulan di setiap komunitas, di mana dengan cara itu, setiap komunitas dapat dan datang dan memberikan dukungan. ”

Salah satu tempat tersebut adalah S. W. King Intermediate School, SMP tempat Price bersekolah, di mana mereka juga telah mengadakan acara-acara pengumpulan materi daur ulang secara besar-besaran.

Price menjelaskan, “Kami belum cukup banyak mengumpulkannya. Seperti saya katakan, perlu 2 hingga 4 juta, banyak sekali, kaleng dan botol minuman. Jadi perlu banyak sekali untuk dapat mengirim seorang anak untuk kuliah di perguruan tinggi. Sekarang ini kami telah mengumpulkan lebih dari 100 ribu kaleng dan botol minuman, yang berat totalnya lebih dari 2, 27 ton. ”

Price menegaskan bahwa setiap botol, setiap kaleng minuman sangat berharga. “Ini benar-benar menantang. Setiap kaleng, setiap botol, berarti. Satu demi satu kaleng, satu demi satu botol. ” [uh/ab]